tradsisi silamatTeknis selamatan orang yang meninggal

Dalam realitas sosial, ditemukan adanya tradisi masyarakat jawa, jika ada keluarga yang meninggal, malam harinya banyak sekali para tamu yang bersilaturrahim, baik tetangga dekat maupun jauh. Mereka semua ikut bela sungkawa atas segala yang menimpa, sambil mendoakan orang yang meninggal dan keluarga yang ditinggalkan.

Hahl tersebut berlaku bagi kaum Nahdliyyin sampai pada hari ke-tujuh, sebab disamping bersiap menerima tamu, sanak keluarga, handai tolan, dan kerabat dekat, mereka mengadakan doa bersama melalui bacaan-bacaan kalimat Hayyibah, seperti bacaan Yasin, Tahlil, Tahmid, Istighatsah dan diakhiri dengan membaca doa yang dikirimkan kepada yang sudah meninggal dunia.

Sedang persoalan ada dan tidaknya hidangan makanan, bukan hal penting, tapi pemanfaatan pertemuan majlis Silaturrahim seperti ini, akan terasa lebih berguna jika diisi dengan berdzikir bersama. Sayang, bagi orang-orang awam yang kebetulan dari keluarga kurang mampu, memandang sajian makanan sebagai suatu keharusan untuk disajikan kepada para tamu, padahal substansi bacaan tahlil dan doa adalah untuk menambah bekal bagi mayit.

Kemudian, peringatan demi peringatan itu menjadi tradisi yang seakan diharuskan, terutama setelah mencapai 40 hari, 100 hari, setahun (Haul), dan 1000 hari. Semua itu berangkat dari keinginan untuk menghibur pada keluarga yang ditinggalkan, dan sekaligus ingin mengambil i’tibar bahwa kita juga akan menyusul (mati) di kemudian hari.

Selanjutnya, dari tradisi seperti itu, muncul persoalan di tengah masyarakat tentang:

  1. Bagaimana hakikat yang sebenarnya hukum acara selamatan yang dalam tradisinya ditentukan hari dan jumlahnya seperti itu?
  2. dasar apa yang bisa dijadikan sebagai landasan amaliyahnya:

Hukum Selamatan 3, 7, 40, dan 100 Hari dan Landasan Amaliyahnya

dengan adanya deskripsi tentang prosesi selamatan dalam upaya mendo’akan orang yang meninggal-dunia seperti tersebut, maka hukum mendo’akan orang yang sudah meninggal-dunia (dalam wujud do’a bersama setelah membaca bacaan kalimat Thayyibah atau surat yasin) adalah disunnahkan (مسنونة), begitu juga hukum bersedekah (dalam wujud selamatannya) dan bersilaturrahim (dalam wujud kumpul bersama di rumah duuka). Hal ini berdasarkan hadist Nabi SAW sebagai berikut:

hadist riwayat Imam Muslim, yaitu:

عن أبى ذرّ أن ناسا من أصحاب النّبى (صلعم) قالوا للنّبى:يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالاجور يصلون كما نصلى ويصومون كما نصوم ويتصدقون بفضول أموالهم قال أوليس قد جعل الله لكم ما تصدقون انّ بكل تسبيحة صدقة وكل تكبيرة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة. رواه مسلم

“Dari Abi Dzarr, ada beberapa sahabat berkata kepada Nabi SAW: ‘Ya Rasulullah, orang-orang kaya itu mendapatkan suatu pahala, (padahal) mereka shalaat seperti kami, mereka puasa seperti kami, mereka bersedekah dengan kelebihan harnta kekayaannya, lalu Nabi SAW menjawab: ‘Bukankah Allah SWT sudah menyediakan untuk kamu sekalian sesuatu yang dapat kamu sedekahkan…? Sesungguhnya setiap satu bacaan Tasbih (yang telah kamu baca) merupakan sedekah, dan setiap takbir merupakan sedekah dan setiap bacaan Tahmid juga merupakan sedekah, dan setiap Tahlil merupakan sedekah”. HR. Muslim.

Hadist riwayat Imam Ahmad, yaitu:

عن عمرو بن عبسة قال: أتيت رسول الله (صلعم) فقلت: يا رسول الله ما الاسلام؟ قال: طيب الكلام واطعام الطعام. (رواه أحمد)

“Dari ‘Amr bin ‘Asabah, beliau berkata: ‘Aku mendatangi Rasulullah SAW, lalu aku bertanya: Ya Rasulullah, apakah islam itu?beliau menjawab: bertutur kata yang baik dan menyuguhkan suatu makanan”. HR. Ahmad.

Hadist Riwayat Imam Turmudziy, yaitu:

عن ابن عباس أن رجلا قال: يا رسول الله انّ أمّى توفّيت أفينفعها ان تصدّقت عنها؟ قال: نعم, قال فانّ لى مخرفا فاشهدك انّى قد تصدّقت به عنها. رواه الترمذى

“Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku sudah meninggal dunia, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab Iya, lalu lelaki tersebut berkata: ‘Aku memiliki sebidang tanah, maka aku persaksikan kepadamu bahwa aku akan mensedekahkan kebun tersebut atas nama ibuku”. HR. Turmudziy.

Dengan demikian, maka hokum bersedekah yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia itu diperbolehkan. Begitu juga hokum peringatan hari ke 3, 7, 40, 100, setahun, 1000 hari, yaitu diperbolehkan, sebagaimana komentar para ahli hokum Islam dalam kitab-kitab sebagai berikut:

Kitab Al-Hawiy, yaitu:

قال طاوس: ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبّون أن يطعموا عنهم تلك الايام – الى ان قال – عم عبيد ابن عمير قال: يفتن رجلان مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا وأما المنافق فيفتن أربعين صباحا

“Imam Thawus berkata: seorang yang mati akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburnya selama 7 hari. Untuk itu sebaiknya mereka (yang masih hidup) mengadakan jamuan makan (sedekah) untuknya selama hari-hari tersebut… sampai kata-kata: dari sahabat Ubaid ibn Umair, dia berkata: seorang mu’min dan seorang munafiq sama’sama akan mengalami ujian dalam kubur. Bagi orang mu’min akan mendapatkan ujian dalam kubur selama 7 hari, sedang orang munafiq selama 40 hari di waktu pagi”.

Kitab Al-Hawiy, yaitu:

أنّ سنّة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنها مستمرّة الى الان بمكّة والمدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الان وأنهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الاوّل

“Kesunatan memberikan sedekah makanan selama 7 hari (tujuh) hari merupakan perbuatan yang tetap saja berlaku sampai sekarang (yaitu masa Al-Suyuthiy abad ke-IX H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas bebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang dan tradisi tersebut diambil dari umala’ salaf sejak generasi pertama, yaitu shabat”.

Kitab Al-Ruh, yaitu:

… أفضل ما يهدى الى الميّت العتق والصدقة والاستغفار له والدعاء له والحجّ عنه وأما قراءة القراءن واهداؤها له تطوعا بغير أجرة فهذا يصل اليه كما يصل ثواب الصوم والحجّ

“… Sebaik-baik amal perbuatan yang dihadiahkan kepada mayitadalah memerdekakan budak, bersedekah, istighfar, berdo’a dan Haji. Sedangkan pahala membaca Al-Qur’an secara ikhlas dan pahalanya diberikan kepada mayit, juga akan sampai kepada mayit tersebut, sebagaimana pahalanya puasa dan haji”.

Kitab Nihayah Al-Zain, yaitu:

والتصدق عن الميّت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيّد بكونه فى سبعة أيام أو أكثر أو أقلّوتقييده ببعض الايام من العوائد فقط كما أفتى بذالك السيّد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميّت فى ثالث من موته وفى سابع وفى تمام العشرين وفى الاربعين وفى المائة وبعد ذالك يفعل كل سنة حولا فى يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاوينى…..

“dan Sedekah untuk Mayit dengan cara Syar’I itu diperlukan dan tidak dibatasiharus tujuh hari atau lebih atau lebih sedikit dan tidak dibatasi dengan beberapa hari dari hari-hari kematiannya. Sebagaimana Sayyid Ahmad Dahlan berfatwa: ‘Telah menjadi kebiasaan manusia sedekah untuk mayit pada hari ke-tiga dari kematian, hari ke-tujuh, hari ke-dua puluh, hari ke-empat puluh, hari ke-seratus, dan setelah itusetiap tahun pada hari kematian. Sebagaimana juga didukung oleh Syeikh Sunbulawainiy”.

 

DAFTAR REFERENSI:

Al-Bantaniy, Muhammad bin Umar bin Ali Al-Nawawiy. Nihayah Al-Zain Fi Irsyad Al-Mubtadi’in. Bandung: CV. Ma’arif.

Al-Suyuthiy, Jalaluddin Abdurrahman. Al-Hawiy Li Al-Fatawa. Beirut: Maktabah Dar Al-Kutub Al-Arabiy.

Al-Turmudziy, Abu Isa Muhammad bin Isa bin bin Surah. Sunan Al-Tirmidziy. CD

About these ads