Archive for November 16, 2011


  1. 1.      PRAKTEK BIMBINGAN PERKAWINAN DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (KAJIAN MODUL BIMBINGAN PERKAWINAN KECAMATAN MEURAXA BANDA ACEH) 2010
  2. 2.      AKIBAT HUKUM FASAKH TERHADAP ISTRI DALAM MASYARAKAT ACEH BESAR (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYAR’IYAH JANTHO ACEH BESAR)
  3. 3.      TANGGUNG JAWAB AHLI WARIS TERHADAP HUTANG SI MATI MENURUT HUKUM ISLAM
  4. 4.      ADAT MERASI DALAM PEMINANGAN DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI KASUS DI KOTA BHARU KELANTAN MALAYSIA)
  5. 5.      PROSEDUR PERKAWINAN CAMPURAN MENURUT HUKUM INDONESIA DAN MALAYSIA
  6. 6.      FAKTOR-FAKTOR PENINGKATAN KADAR MAHAR DALAM PERKAWINAN (STUDI KASUS DALAM MASYARAKAT DI DAERAH KOTA BHARU, KELANTAN MALAYSIA
  7. 7.      NIKAH SIRRI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK
  8. 8.      POLIGAMI DITINJAU DARI SISI KEADILAN DALAM HUKUM ISLAM
  9. 9.      ESENSI MENUTUP AURAT MENURUT PENDAPAT QURAISH SHIHAB” (KAJIAN KHUMUR DAN JUYUP)
  10. 10.  PEMBAGIAN WARISAN ANTARA ANAK LAKI-LAKI DAN ANAK PEREMPUAN (ANALISIS GENDER MENURUT ULAMA DAYAH DI KAB. ACEH BESAR)
  11. 11.  PENGEMIS DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM
  12. 12.  EKSISTENSI DOKUMEN SEBAGAI ALAT BUKTI PERNIKAHAN KAJIAN TERHADAP TUJUAN PENSYARI’ATAN SAKSI DALAM PELAKSANAAN AKAD NIKAH)
  13. 13.  PENANGGULANGAN ANAK TERLANTAR DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (ANALISIS UU NO. 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK)
  14. 14.  NURJEHAN BINTI MAT DAUD / 110807806 ZAKAT PIUTANG MENURUT HUKUM ISLAM (KAJIAN PENDAPAT HANAFIYYAH) 2010
  15. 15.  TUNTUTAN TUNGGAKAN NAFKAH ANAK KAJIAN ENAKMEN KELANTAN NO.6 TAHUN 2002 (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH KOTA BHARU KELANTAN) 2010
  16. 16.  PERNIKAHAN ANAK DIBAWAH UMUR DI NEGERI KELANTAN MALAYSIA ( STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH KOTA BHARU KELANTAN) 2010
  17. 17.  KRITERIA MAKANAN DALAM PENETAPAN LOGO HALAL (KAJIAN MEKANISME JAKIM DAN PPIM MALAYSIA) 2010
  18. 18.  PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DALAM POLIGAMI (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH NEGERI JOHOR, MALAYSIA) 2010
  19. 19.  ANALISIS SITEM BAGI HASIL PADA PEMBIAYAAN BAI’L BI TSAMAN AJIL DI BAITUL QIRADH BAITURRAHMAN BAZNAS MADANI BANDA ACEH 2010
  20. 20.  PERANAN TOKOH ADAT TERHADAP PERNIKAHAN KASUS KHALWAT (SUATU KASUS DIKECAMATAN BLANG KEJEREN KABUPATEN GAYO LUES) 2010
  21. 21.  JAMINAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK ANGKAT (KAJIAN TERHADAP PENERAPAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA) 2010
  22. 22.  AKAD JUAL BELI DALAM PEMBAYARAN ZAKAT FITRAH DENGAN UANG (STUDI KASUS DI KECAMATAN SIMPANG KANAN ACEH SINGKIL) 2010
  23. 23.  IMPLIKASI BANK ASI (AIR SUSU IBU) TERHADAP HUKUM RDHA’AH: WACANA PEMIKIRAN YUSUF QARDHAWI 2010
  24. 24.  TANGGUNG JAWAB ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SYSTEM KEWARISAN (KAJIAN TERHADAP ADAT PERPATIH MASYARAKAT REMBAU, NEGERI SEMBILAN) 2010
  25. 25.  PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DALAM POLIGAMI (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH NEGERI KELANTAN, MALAYSIA) 2010
  26. 26.  PEMAKAIAN CADAR BAGI WANITA DITINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM 2010
  27. 27.  KAWIN MISYAR MENURUT HUKUM ISLAM (KAJIAN FATWA KONTEMPORER YUSUF QARDHAWI) 2010
  28. 28.  WASIAT TRANSPLANTASI ORGAN FISIK MANUSIA MENURUT HUKUM ISLAM 2010
  29. 29.  KONSEP KAFA’AH DALAM PERNIKAHAN DAN KONSEKUENSINYA DALAM RUMAH TANGGA (KAJIAN FIQH EMPAT MAZHAB) 2010
  30. 30.  MU’AYANAH DALAM KESAKSIAN PERKAWINAN (KAJIAN TERHADAP PANDANGAN MAZHAB SYAFI’IYAH) 2010
  31. 31.  POLIGAMI SEBAGAI ALAS AN PERCERAIAN (ANALISIS YURISPRUDENSI PADA MAHKAMAH SYARI’AH BANDA ACEH) 2010
  32. 32.  PEMBAYARAN DAM HAJI DENGAN UANG DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM 2010
  33. 33.  AKIBAT HUKUM FASAKH TERHADAP ISTERI DALAM MASYARAKAT ACEH BESAR (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH JANTHO ACEH BESAR) 2010
  34. 34.  PROSESI WALIMAH DALAM PERKAWINAN DI RANTAU PANJANG KELANTAN DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM 2010
  35. 35.  KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA BERBASIS GENDER DALAM PERSPEKTIF ISLAM (KAJIAN TERHADAP SURAT AN-NISA’ AYAT 34) 2010
  36. 36.  ADAT PEMINANGAN MELALAKEN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS DI KECAMATAN SIMPANG KANAN KABUPATEN ACEH SINGKIL) 2010
  37. 37.  KRITERIA ISTITA’AH DALAM BERHAJI (KAJIAN FIQH KONTEMPORER) 2010
  38. 38.  PENENTUAN KADAR MUT’AH BAGI ISTERI KARIR (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH KELANTAN) 2010
  39. 39.  WACANA PEMBINAAN PELAKU NIKAH SIRRI MENURUT KAJIAN HUKUM ISLAM 2010
  40. 40.  WAKAF TUNAI DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (KAJIAN KEPUTUSAN MAJLIS PENGURUSAN AGAMA ISLAM KELANTAN MALAYSIA) 2010
  41. 41.  KEDUDUKAN JABATAN KEBIJAKAN MASYARAKAT (JKM) SEBAGAI LEMBAGA PENGAWAS ADAT ANGKAT 2010
  42. 42.  TEKNIK RUKYAH YANG DILAKUKAN OLEH ULAMA DAYAH DALAM PENENTUAN AWAL DAN AKHIR RAMADHAN (STUDI KASUS DIKABUPATEN ACEH BARAT DAYA) 2010
  43. 43.  HUKUM PEMAMFAATAN BIJI KOPI DARI KOTORAN MUSANG 2010
  44. 44.  LARANGAN MEMPEKERJAKAN ANAK DIBAWAH UMUR (STUDI ANALISIS UU NO. 23 TAHUN 2002 DAN HUKUM ISLAM) 2010
  45. 45.  TEST HIV SEBAGAI SYARAT AKAD NIKAH (TINJAUAN MASLAHAH AL-MURSALAH: STUDI KASUS ENAKMEN UNDANG-UNDANG KELUARGA ISLAM KELANTAN MALAYSIA) 2010
  46. 46.  KEDUDUKAN HARTA BAWAAN DALAM KEWARISAN PADA MASYARAAT DAERAH RANTAU PANJANG KELANTAN MALAYSIA 2010
  47. 47.  KEDEWASAAN DALAM USIA PERKAWINAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM 2010
    48. KEWARISAN DARI NON MUSLIM (KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN YUSUF QARDHAWI) 2010
  48. 48.  KEDUDUKAN MAJLIS AGAMA ISLAM KELANTAN (MAIK) DALAM PENGELOLAAN HARTA WAQAF 2010
  49. 49.  PERSETUJUAN ISTERI SEBAGAI SYARAT SAH RUJUK (KAJIAN TERHADAP PASAL 164 DAN 165 KHI) 2010
  50. 50.  PANDANGAN ULAMA DAYAH TERHADAP HARTA BERSAMA ANTARA SUAMI ISTERI (SUATU PENELITIAN DI KABUPATEN ACEH UTARA) 2010
  51. 51.  HARAM MEROKOK MENURUT MAJELIS TARJIH DAN TAJDID PP MUHAMMADIYAH PUSAT (KAJIAN ANALISIS DARI SEGI METODE ISTIMBAT HUKUM DAN KEMASLAHATAN) 2010
  52. 52.  HAK-HAK WANITA SETELAH PUTUS PERTUNANGAN (KAJIAN MENURUT ENAKMEN KELUARGA ISLAM NEGERI PERAK MALAYSIA DITINJAU DARI SEGI HUKUM ISLAM) 2010
  53. 53.  PENGGUNAAN ORGAN HEWAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP IBADAH SHALAT (KAJIAN KRITIS TERHADAP PENDAPAT YUSUF AL-QARDHAWI) 2010
  54. 54.  IKRAR TA’LIQ TALAQ DAN UPAYA PERLINDUNGAN PEREMPUAN DI WILAYAH PERSEKUTUAN KUALA LUMPUR. 2010
  55. 55.  PENERAPAN KEWAJIABN PEMAKAIAN ROK BAGI PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS DI MEULABOUH KABUPATEN ACEH BARAT) 2010
  56. 56.  KEDUDUKAN HAK ISTERI PASCA PERCERAIAN TERHADAP PENGHASILAN SUAMI PNS SI MAHKAMAH SYARI’AH TINJAUAN TERHADAP PP NO. 45 TAHUN 1990. 2010
  57. 57.  METODE PROPOSAL DALAM MENCARI JODOH PADA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA KOTA BANDA ACEH. 2010
  58. 58.  RUJUK TANPA PERSETUJUAN PENGADILAN (STUDI KASUS DI KOTA BHARU KELANTAN) 2010
  59. 59.  STUDI TERHADAP PEMIKIRAN M. QURAISH SHIHAB TENTANG ADIL DALAM POLIGAMI 2010
  60. 60.  PREMARITAL CHECK UP SEBAGAI SALAH SATU SYARAT PERNIKAHAN (KAJIAN PERSPEKTIF FIQH) 2010
  61. 61.  DAMPAK TELEKOMUNKASI TERHADAP KONFLIK RUMAH TANGGA (KAJIAN PUTUSAN MAHKAMAH SYARI’AH BANDA ACEH) 2010
  62. 62.  SYSTEM RUKYAT DALAM PENENTUAN AWAL RAMADHAN (ANALISIS KEPUTUSAN MAJELIS SYURA NU) 2010
  63. 63.  PERANAN BADAN PENASEHATAN, PEMBINAAN DAN PELESTARIAN PERKAWINAN (BP4) KECAMATAN KLUET UTARA DALAM MENGARUNGI FREKUENSI TERJADINYA PERCERAIAN 2010
  64. 64.  ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP PERKARA PERCERAIAN DENGAN ALAS AN IMPOTENSI (STUDI KASUS DI MAHKAMAH SYARI’AH ACEH) 2010
  65. 65.  PENENTUAN AWAL WAKTU SHALAT (SUATU KAJIAN TERHADAP SYSTEM EPHEMERIS) 2010
  66. 66.  POLIGAMI DALAM PRAKTEK MASYARAKAT AYER HITAM BATU PAHAT JOHOR MALAYSIA (KAJIAN KONSEP KEADILAN TERHADAP PELAKU PRAKTIK POLIGAMI) 2010
  67. 67.  SALAM KERUK DALAM WALIMATUL URUS DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI KASUS DI TANAH MERAH KELANTAN MALAYSIA) 2010
  68. 68.  FARAQ DALAM PERNIKAHAN SINDIKET MENURUT HUKUM ISLAM (KAJIAN TERHADAP ENAKMEN 17 TAHUN 2003 UNDANG-UNDANG KELUARGA ISLAM NEGERI JOHOR) 2010
  69. 69.  KEWENANGAN THALAQ DAN KHULU’ DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI KASUS DI KOTA BANDA ACEH) 2010
  70. 70.  PERAN MEDIASI TERHADAP KASUS PERCERAIAN DITINJAU DALAM HUKUM ISLAM 2010
  71. HUKUMAN RAJAM DALAM ISLAM
  72. STUDI TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD ALI DALAM BUKUNYA “ISLAMOLOGI”
  73. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI BUSA- NA BAJU BODO PADA MASYARAKAT SULAWESI SELATAN
  74.  PERAN LEMBAGA KOMNASHAM TERHADAP PERLINDUNGAN HAK AZASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
  75. STUDI PERBANDINGAN TENTANG MENIKAHI WANITA HAMIL, KARENA ZINA MENURUT MAZHAB HANAFI, MALIKI, SYAFI; HAMBALI.
  76. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN PASAL 22 – 24 UU No 3 TH 1997 TENTANG KEJAHATAN ANAK
  77. KEDUDUKAN WANITA MENJADI SAKSI DALAM PERSPEKTIF IMAM SYAFI’I DAN IMAM ABU HANAFIAH (TELAAH PERBANDINGAN)
  78. KONTRIBUSI ‘URF TERHADAP PEMBINAAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA
  79. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP SUROGALY
  80. BATAS KEMAMPUAN MENIKAH DITINJAU DARIHUKUM ISLAM (TELAAH ANALITIK TERHADAP PASAL 7 UU NO. 1 TH 1974)
  81. KONTRIBUSI ‘URF  TERHADAP PEMBINAAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA
  82. STUDI PERBANDINGAN ANTARA NGABEN DALAM AGAMA HINDU DI KABUPATEN  KARANG ASEM DAN PERAWATAN JENAZAH DALAM HUKUM ISLAM
  83. REFORMULASI EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM (MENUJU KE ARAH FIQH INDONESIA)
  84. TINJAUAN YURIDIS TERHADAP ALASAN-ALASAN POLIGAMI DI PENGADILAN AGAMA WATES
  85. TELAAH PERANAN NADZIR DALAM PERWAKAFAN DI INDONESIA (STUDI TERHADAP PP NO. 28/1977 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM)
  86. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PASAL 4 MENGENAI SANITASI PANGAN UNDANG-UNDANG NO 7 TH 1996
  87. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRADISI BUSANA BAJU BODO PADA MASYARAKAT SULAWESI SELATAN
  88. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP YURISPRUDENSI SEBAGAI SUMBER HUKUM FORMAL
  89. STUDI KASUS TENTANG NIKAH MUT’AH DI KECAMATAN SIDOHARJO SRAGEN JAWA TENGAH
  90. ANALISIS FILOSOFIS TERHADAP PASAL 185 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG PENGGANTIAN AHLI WARIS
  91. LEGISLASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA TINJAUAN YURIDIS
  92. DELIK LINGKUNGAN HIDUP DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM. (STUDI PASAL 22 UU NO 4 TH 1992 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP)
  93. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENYERAHAN CONSTITUTUM POSSESSORIUM SEBAGAI SEBAB PEMILIKAN DALAM HUKUM PERDATA
  94. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP TRANSAKSI DERIVATIF
  95. PELAKSANAAN ZAKAT PADA BAITUL MAAL BALAI USAHA MANDIRI TERPADU “SHAFT” SEMARANG
  96. QIYAS SEBAGAI DASAR PENGHARAMAN NAPZA
  97. IMAMAH DALAM PANDANGAN POLITIK SUNNI DAN SYI’AH (STUDI PERBANDINGAN)
  98. PEMIKIRAN AHMAD AHZAR BASYIR MENGENAI ELASTISITAS HUKUM ISLAM
  99. PEMIKIRAN YUSUF AL-QARDAWI TENTANG ZAKAT DAN PAJAK   SY.29/AJ PANDANGAN AL-GHAZALI TENTANG ISTIHSAN DAN ISTISLAH
  100. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP UNDANG-UNDANG NO 25 TH 1997 TENTANG KETENAGA KERJAAN (TELAAH ANALISIS TERHADAP 25 DAN 92 TENTANG KESEMPATAN DALAM MEMPEROLEH PEKERJAAN BAGI PRIA DAN WANITA)
  101. ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN PROF. DR. H. MUNAWIR SADZALI TENTANG KONSEP KETATA NEGARAAN DALAM ISLAM   SY.32/AJ STUDI ANALISIS TENTANG TAKSASI BIAYA HADHANAH DALAM DIKTUM PUTUSAN PERADILAN AGAMA DISEBABKAN PERUBAHAN FLUKTUASI NILAI TUKAR RUPIAH (STUDI KASUS DI PENGADILAN AGAMA SLEMAN)
  102. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PASAL45 PP NO 9 TH 1975 TENTANG KETENTUAN DIADA DALAM PERKAWINAN
  103. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA DI HOTEL AMBARUKMO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
  104. URGENSITAS BANTUAN HUKUM TERHADAP TERWUJUDNYA HAK ASASI MANUSIA MENURUT HUKUM ISLAM
  105. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENIMBUNAN BARANG DALAM AKTIVITAS EKONOMI
  106. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERTANGGUNG- AN JIWA DARI ASURANSI JIWA  BERSAMA BUMI PUTERA 1912, RAYON WATES
  107. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN PEMBAGIAN WARIS DI KECAMATAN MUARA SIAU DI KABUPATEN SAROLANGUN BANGKO, PROPINSI JAMBI
  108. FASID NIKAH KARENA WALI TIDAK SAH DAN AKIBAT HUKUMNYA (STUDY ANALISIS TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN AGAMA KEBUMEN)
  109. STUDI PERBANDINGAN TENTANG KEDUDUKAN WALI NIKAH BAGI SEORANG JANDA MENURUT PENDAPAT ABU HANAFIAH DAN IBNU HAZM
  110. PENERAPAN SADDUZ-ZARI’AH PADA PERKAWINAN ANTAR AGAMA (ANTARA LAKI-LAKI MUSLIM DENGAN WANITA AL- SEGI-SEGI POSITIF NIKAH MASAL DI PONDOK PESAN TREN “ASSALAM” SUKOHARJO. DITINJAU DARI SYARI’AT ISLAM DAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN DI INDONESIA
  111. PENGARUH PENERAPAN HAK OPSI TERHADAP KESADARAN HULUM UMAT ISLAM DALAM PENYELESAIAN PERKARA WARIS (STUDI KASUS DI PENGADILAN AGAMA AMBARAWA DAN PENGADILAN NEGRI KAB. SEMARANG
  112. TINDAK PIDANA PENCURIAN OLEH PENDERITA KLEPTOMANIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
  113. TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENGANIAYAAN SUAMI TERHADAP ISTRI DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN (STUDI ANALISIS TERHADAP ASAL 351 KUHP)
  114. KONSEP FASAKH NIKAH MENURUT IMAM AS-SYAFII SERTA RELEVANSINYA DENGAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
  115. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBERIAN HARTA ORANG TUA KEPADA ANAK DALAM ADAT DI KECAMATAN TAHUNAN KAB. JEPARA
  116. FATWA-FATWA MAJLIS ULAMA INDONESIA (TELAAH PENGARUH PERKEMBANGAN POLITIK DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM)
  117. PELAKSANAAN HUKUM WARIS ISLAM PADA MASYARAKAT PTRILINEAL / TAPANULI SELATAN
  118. PROBLEMATIKA DAN PENYELESAIAN PERWAKAFAN TANAH MILIK DI KECAMATAN TANON KABUPATEN SRAGEN SETELAH KELUARNYA PP NO 28 TH 1977
  119. KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH TANGGA SEB. ALASAN PERCERAIAN DI P.A. SLEMAN
  120. STUDI ANALISIS TERHADAP PEMIKIRAN K H MOENAWAR CHALIL TENTANG IJMA’ SESUDAH MASA SAHABAT
  121. PERCERAIAN DI P.A. YOGYAKARTA (STUDI ANALITIK TERHADAP ALASAN PUTUSAN HAKIM)
  122. STUDI ANALITIK TERHADAP PERJANJIAN PERKAWINAN DALAM UNDANG-UNDANG NO.1 TH 1974 & KOMPILASI HUKUM ISLAM
  123. REALISASI HADANAH DAN NAFKAH ANAK SETELAH TERJADI PERCERAIAN DI P.A. (STUDI KASUS DI KEC. NGAGLIK)
  124. VERSTEK DI PERADILAN AGAMA. DITINJAU DARI HUKUM ISLAM (STUDI KASUS PERCERAIAN P.A. YOGYAKARTA
  125. PERSOALAN SEKSUAL YANG BERAKIBAT PERSELISIHAN SUAMI ISTRI SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN (STUDI KASUS DI P.A. PEMALANG)
  126. PEMBATALAN PERKAWINAN KARENA MENGAWINI ANAK TIRI, DI P.A. WONOGIRI (STUDI ANALITIK TERHADAP PUTUSAN P.A. WONOGIRI)
  127. PENERAPAN MASALAH MURSALAH DALAM BERBAGAI PRODUK HUKUM ISLAM DI INDONESIA
  128. STUDI KOMPARASI ANTARA PANDANGAN IBNU HAZM & ASY-SYAFI’I MENGENAI PUASA RAMADHAN BAGI WANITA HAMIL & WANITA MENYUSUI
  129. KONSEP MAWADDAH WA RAHMAH DALAM HUKUM PERKAWINAN ISLAM 96 PERA.19/AJ PELAKSANAAN HUKUM WARIS BAGI KAUM WARIA MUSLIM YANG TERGABUNG DALAM IWAYO
  130. PEMBAGIAN WARISAN SEBELUM PEWARIS MENINGGAL DUNIA PADA MASYARAKAT ADAT BANYUMAS DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  131. ASAN DAN PANDANGANNYA TERHADAP LOTRE
  132. PEMILIHAN JODOH DALAM ISLAM
  133. PROBLEMATIKA WASIAT WAJIBAH DALAM HUKUM ISLAM (STUDI ANALISIS TERHADAP PENDAPAT ULAMA YANG PRO & YANG KONTRA)
  134. ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT SAMIN DI KAB. BLORA DAN KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN ADA PENGARUH ISLAM DI DALAMNYA
  135. PENGARUH ADAT DALAM PEMBINAAN DAN PENERAPAN HUKUM ISLAM
  136. TINJAUAN HUKUM ISLAM THD ADAT PERKAWINAN BATAK MANDAILING DI KECAMATAN SIABU, KAB. TAPANULI SELATAN
  137. WALI MUJBIR DALAM KAITANNYA DENGAN PRINSIP PERKAWINAN   MENURUT  UNDANG-UNDANG NO. 1 TH 1974
  138. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERMASALAHAN KAWIN DAMPULAN & UPAYA PENANGANANNYA
  139. PANDANGAN IMAM ASY-SYAFI’I TENTANG IJMA’ SEBAGAI SUMBER PENETAPAN HUKUM ISLAM DAN RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DEWASA INI)
  140. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO. 1 TH 1974 SEJAK 1986 – 1995 (STUDI ATAS PELAKSANA AN PERKAWINAN DI KAB. NGAWI)
  141. AHLI WARIS TELAH SEPERJANJIAN (STUDI ANALISIS TERHADAP PERSEPSI HAZAIBIN DALAM PERPEKTIF HUKUM ISLAM).
  142. PERWAKAFAN TANAH MILIK DI KOTA MADYA JOGYAKARTA (STUDI KASUS TERHADAP MAJLIS WAKAF DAN KEHARTABENDAAN MUHAMMADIYAH KODYA YOGYAKARTA SEBAGAI NAZIR)
  143. PENGARUH SOSIAL BUDAYA DALAM PEMIKIRAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA (TINJAUAN ATAS LEGISLASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA)
  144. KEMASLAHATAN SEBAGAI DASAR PERTIMBANGAN BAGI PENETAPAN HUKUM ISLAM
  145. MASLAHAH MURSALAH SEBAGAI LANDASAN PENETAPAN HUKUM (STUDI KOMPARASI ANTARA PENDAPAT AL-GAZALI & AT-TUFI)
  146. PENGINGKARAN SUAMI TERHADAP SAHNYA ANAK MENURUT HUKUM ISLAM & HUKUM POSITIF
  147. SUAMI MAHQUD & PERMASALAHANNYA TINJAUAN ULANG TERHADAP QALL QADIM DAN JADID AS-SYAFII
  148. AKTA DI BAWAH TANGAN SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM
  149. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP HUKUM WARIS ADAT SUKU BANJAR (HARTA PERPANTANGAN) DI KAB. HULU SUNGAI TENGAH, KALIMANTAN SELATAN.
  150. SAKTI SEBAGAI ALAT BUKTI DALAM PENGENDALIAN DENGAN BERBAGAI PERMASALAHAN (STUDI KOMPARATIF ANTARA HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM)
  151. SIKAP SEORANG MUSLIM MENGHADAPI MASALAH KHILAFIYAH DALAM HUKUM ISLAM
  152. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK LUAR KAWIN DI INDONESIA (SUATU STUDI BANDING)
  153. 89 PERA.43/AJ PEMBERIAN DISPENSASI PERKAWINAN DI BAWAH UMUR DALAM UNDANG-UNDANG NO. 1 TH 1974 DITINJAU DARI SEGI HK. ISLAM (STUDI DI P.A. KODYA YOGYAKARTA)
  154. PERANAN RA’YU DALAM ISTIHSAN DAN RELEVANSINYA DENGAN PERMASALAHAN HUKUM DI INDONESIA
  155. SIKAP HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM HUKUM WARIS ADAT (PTRILINIAL, MATRILINIAL & PARENTAL)
  156. PENGARUH ISTRI BEKERJA TERHADAP KEHIDUPAN RUMAH TANGGA DI KECAMATAN BANJARNEGARA PROPINSI JATENG (STUDI ANALITIS HK. ISLAM)
  157. PERCERAIAN DENGAN ALASAN ZINA DAN PEMBUKTIAANNYA DI P.A. DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI TERHADAP PUTUSAN P.A. YOGYAKARTA TH 1994)
  158. PELAKSANAAN PERMENDAGRI NO.4 TH 1982 TENTANG KEDUDUKAN DAN KEDUDUKAN KEUANGAN KADES, SKDES, KAUR & KADUS DITINJAU DARI HK. ISLAM (STUDI KASUS DI KECAMATAN PANGKAH DI KAB. TEGAL.
  159. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBUKTIAN DENGAN TULISAN DALAM HUKUM ACARA PERDATA
  160. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN PERJANJIAN JUAL BELI TEBASAN PADI DI DESA MULUR KEC. BENDOSARI, KAB. SUKOHARJO
  161. PELAKSANAAN PELELANGAN DALAM PERJANJIAN GADAI MENURUT PANDANGAN HK ISLAM (STUDI KASUS DI PERUM. PEGADAIAN DI CAB. BASEN KOTAGEDE, YOGYA)
  162. KEWARISAN AHLI WARIS BATALI SABAB DALAM ADAT MINANGKABAU DI TINJAU DARI HK ISLAM. (STUDI DI DAERAH TK II KAB AGAM, SUMATRA BARAT)
  163. AKIBAT HUKUM KEMATIAN SALAH SATU PIHAK TERHADAP PERJANJIAN SEWA MENYEWA MENURUT ABU HANIFAH & HK LOSITIF,
  164. MEMBUKA TANAH DAN KEPEMILIKANNYA DALAM  PERSPEKTIF HK AGARIA NASIONAL DAN HUKUM ISLAM (SEBUAH STUDI KOMPARASI)
  165. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN GADAI TANAH DI DESA TUNGGAL ROSO, PREMBUN, KEBUMEN – JATENG
  166. STUDI TENTANG JARIMAH GAIRU TAMMAH DALAM HUKUM PIDANA ISLAM DAN PERCOBAAN MELAKUKAN KEJAHATAN DALAM KITAB UNDANG-UNDANG DAN HUKUM PIDANA INDONESIA (KUHP)
  167. ANALISA TERHADAP PASAL 53 KOMPILASI HUKUM ISLAM DARI SEGI MASLAHAH MURSALAH (BERDASARKAN PENDAPAT DARI PARA ULAMA)
  168. TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PUTUSAN BEBAS (VRIJSPAARK) DALAM KUHP
  169. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN PERADILAN ANAK DI PADANG SIDEMPUAN
  170. INSEMINASI BUATAN DARI BENIH SUAMI YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ATAU BENIH BEKU DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM
  171. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN GADAI & JUAL MUSIMAN BUAH-BUAHAN DI DESA  BAMBUSARI, KEC. KAJORAN, KAB. MAGELANG
  172. TINJAUAN HK ISLAM TERHADAP  PIDANA BERSYARAT DALAM KUHP
  173. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP KEJAHATAN PERKOSAAN PASAL 285 KUHP
  174. DIMENSI KEMANUSIAAN DALAM HUKUMAN JARIMAH HIRABAH DALAM SYARIAH
  175. 92 PP.03/AJ TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP DELIK AGAMA DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA
  176. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP WANPRESTASI DAN PENYELESAIAANYA DALAM KREDIT PEMILIKAN RUMAH DI MOJOSONGO, KEC. JEBRES, KODYA SURAKARTA
  177. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI TANAH SAWAH SISTEM TAHUNAN DI DESA LEMBUPURWO, KECAMATAN MIRIT, KAB. KEBUMEN
  178. PELAKSANAAN IJON DI KEC. KEDIRI, LOMBOK BARAT DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  179. STUDI KOMPARATIF ANTARA HUKUMISLAM DENGAN HUKUM PERDATA DI INDONESA, TENTANG PEMILIKAN BENDA TETAP
  180. ANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP SISTEM UPAH PEKERJA TANAM PADI DI DESA KALI TIRTO, KEC. BERBAH, KAB SLEMAN
  181. SISTEM PERBURUHSN PADA PERUSAHAAN GENTENG MAS  SOKKA DI SRUWENG, KEBUMAN DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  182. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP JUAL BELI AYAM PEDAGING SISTEM KONTRAK DIDESA SINDANG KEMPENG, KEC. BEBER, KAB CIREBON
  183. STUDI BANDING TENTANG EFEKTIFITAS HUKUMAN BAGI KEJAHATAN PEMBUNUHAN DALAM HUKUM PIDANA & HUKUM PIDANA ISLAM
  184. SEWA LELANG TANAH PANGONAN DI DESA SUGISTUA KEC. ANJATAN,  KAB. INDRAMAYU DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM
  185. KECAKAPAN MENERIMA HAK & KECAKAPAN MELAKUKAN PERBUATAN HUKUM MENURUT HUKUM PERDATA & HUKUM ISLAM (SUATU STUDI PERBANDINGAN)
  186. TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DI INDONESIA
  187. DELIK AGAMA DALAM KUHP DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  188. STUDI PERBANDINGAN ANTARA HUKUM PIDANA POSITIF DRNGAN HUKUM PIDANA ISLAM MENGENAI EKSEKUSI BAGI PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERPENYAKIT GULA
  189. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN PERJANJIAN INDUSTRI ANTARA PT ANEKA KARYA DENGAN PERUSAHAAN ANAK CABANG DI BATUR CEPER, KLATEN
  190. SISTEM JUAL BELI TEMBAKAU IMBON DI DESA WONOTIRTO DITINJAU HUKUM ISLAM
  191. SISTEM PERBURUHAN PD PERUSAHAAN BATIK CV. SOEMIHARDJO DI KODYA YOGYAKARTA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  192. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ASAS PARTNERSHIP DALAM HUBUNGAN PERBURUHAN (SEBUAH STUDI KASUS DI UNIT SPSI DI HOTEL CAKRA
  193. KETENTUAN-KETENTUAN RUJU’ MENURUT PENDAPAT IBNU HAZM DAN ASY SYAFI’I
  194. WANITA SEBAGAI ISTRI DALAM PANDANGAN ADAT JAWA & ISLAM (STUDI KOMPARASI TENTANG KEDUDUKAN & PERANANNYA DALAM RUMAH TANGG DAN MASYARAKAT JAWA TENGAH
  195. PENGARUH PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I TERHADAP PENCABUTAN KESAKSIAN DALAM BERITA ACARA PEMERIKSAAN DI PENGADILAN DI INDONESIA
  196. KEDUDUKAN NAFKAH SELAMA MASSA IDDAH BAGIISTRI YANG DI TALAK BA’IN MENURUT MADZHAB HANAFI & MADHZAB SYAFI’I (STUDI KOMPARASI)
  197. STUDI PERBANDINGAN ANTARA ULAMA MALIKIYAH DAN SYAFI’IYAH TENTANG CACAT DIJADIKAN KHIYAR DAN FASAKH DALAM PERNIKAHAN
  198. TALFIQ DALAM PANDANGAN FULQAHA DAN APLIKASINYA DALAM KOMPILASI HUKUM DI INDINESIA
  199. IJTIHAD SYEIKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJAR TENTANG PELAKSANAAN SHALAT BERJAMAAN
  200. SANKSI HUKUM TERHADAP PELAKU EUTHANSIA YANG DIPAKSA MENURUT  KUHP DAN HUKUM ISLAM
  201. PERGOLAKAN SIPIL DI ACEH DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM (STUDI GERAKAN TENGKU MUHAMMAD DAUD BEUREUH & TENGKU MUHAMMAD HASAN TIRO)
  202. PENGARUH TIPE KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS TERHADAP DISIPLIN KERJA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
  203. IMPLEMENTASI PASAL 53 KOMPILASI HUKUM ISLAM TENTANG PERKAWINAN WANITA HAMIL DI LUAR NIKAH DI WILAYAH JOGOYUDAN JETIS YK TH 1999-2001
  204. SHOLAT JUM’AT DI SELAIN MASJID (STUDI KOPARASI MALIKIYYAH DAN SYAFIIYYAH
  205. KONSEP PENGELOLAAN ZAKAT SEBAGAI SARANA PEMBERDAYAAN EKONOMI UMAT (STUDI ANALISIS ATAS PEMIKIRAN YUSUF AL QARDAWI DAN RELEVANSINYA DALAM KONTEKS KE INDONESIAAN
  206. HUKUM TA’ADDUD AL JUM’AT 9STUDI PERBANDINGAN ANTARA MAZHAB HANAFI DAN MAZHAB SYAFI’I)
  207. SHOLAT JUM’AT (STUDI KOMPARATIF ANTARA PEMIKIRAN T.M. HASBI ASH SHIDDIQY DAN KYAI MOCHAMMAD MUCHTAR MU’THI)
  208. STUDI PEMIKIRAN M DAWAM RAHARJO TTG ZAKAT DAN IMPLEMENTASINYA PADA PENGELOLAAN DAN PENDAYAGUNAAN ZAKAT
  209. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ADAT PELANGKAH DALAM PERKAWINAN DI MINOMARTANI NGAGLIK SLEMAN YK
  210. ARGUMENTASI METODOLOGIS ZAKAT PROFESI DALAM MUHAMMADIYAH 2002 ZAKAT PROFESI SY.64/AJ SHOLAT JUM’AT BERTEPATAN DG HARI RAYA (STUDI KOMPARASI PENDAPAT IMAM ASY SYAFI’I DAN IMAM AHMAD IBN HAMBAL)
  211. STUDI KOMPARATIF ANTARA MAZHAB HANAFI DAN SYAFII TENTANG SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR
  212. PELAKSANAAN ZIARAH PETILASAN SUNAN BONANG DI BONANG LASEM REMBANG (STUDI KOMPARASI BUDAYA ISLAM SINKRETIS DAN ISLAM NORMATIF)
  213. HUKUM SHOLAT QOSOR BAGI MUSAFIR (PANDANGAN MAZHAB HANAFI DAN MAZHAB SYAFIIYAH)
  214. TINJAUAN HUKUM ADAT TERHADAP PENINGSET DAN ASOK TUKON DALAM PERKAWINAN DI KEC. WIROBRAJAN
  215. PERKAWINAN BEDA AGAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (PERBANDINGAN ANTARA PENDAPAT TM HASBI ASH SHIDIEQY DAN YUSUF AL QARDAWI)
  216. JABAT TANGAN ANTARA ORANG LAKI-LAKI DG PEREMPUAN BUKAN MAHRAM MENURUT PENDAPAT HASBI ASH SHIDDIQY DAN AHMAD HASSAN
  217. STUDI PENDAPAT HASBI ASH SHIDDIEQY TTG HUKUM BERJABAT TANGAN ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
  218. JUDICIAL REVIEW DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA (STUDI PERBANDINGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI PASAL 60 HURUF G UU NO 12 TH 2003 TTG PEMILU DPR, DPD DAN DPRD)
  219. INDEPENDENSI MAHKAMAH SYARI’AH NANGROE ACEH DARUSSALAM (TELAAH BAB XII PASAL 25-26 UU NO 18 TH 2001)
  220. DISPENSASI NIKAH DI BAWAH UMUR MENURUT UNDANG-UNDANG NO 1 TH 1974 (STUDI PENETAPAN PA YK TH 2002-2005)
  221. PELAKSANAAN PASAL 57 AYAT (3) UU NO 7 TH 1989 JO UU NO 3 TH 2006 (DALAM TINJAUAN HUKUM ACARA ISLAM)
  222. PEMBATALAN PERKAWINAN POLIGAMI KARENA TIDAK ADANYA IZIN ISTERI (STUDI ANALISIS ATAS PUTUSAN PA YK PERKARA NO 159/PDT G/2006/PA YK )
  223. PANDANGAN TOKOH MUHAMMADIYAH KLATEN TERHADAP NIKAH HAMIL DAN PENANGGULANGANNYA
  224. PENGAKUAN AYAH BIOLOGIS TERHADAP ANAK LUAR NIKAH (STUDI TERHADAP PUTUSAN PA SLEMAN TH 2006 NO 408/PDT G/2006/PA SLEMAN)
  225. PEMBERATAN PIDANA BAGI PEMUFAKATAN JAHAT DALAM TINDAK PIDANA PSIKOTROPIKA PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM
  226. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN KONSUMEN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI JASA NADA TUNGGU
  227. KAWIN PAKSA SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN (STUDI TERHADAP PUTUSAN PA YK NO 142/PDT G/ 2006/ PA YK)
  228. PENGABAIAN NAFKAH LAHIR SEBAGAI ALASAN GUGATAN PERCERAIAN DI PA TULUNGAGUNG TH 2003-2005
  229. IZIN POLIGAMI TANPA ADANYA ALASAN DALAM PASAL 4 AYAT (2) UU NO 1 TH 1974 TTG PERKAWINAN (STUDI TERHADAP PUTUSAN PA BANTUL TH 2005
  230. MUSYAWARAH DI BMT DANA SEJAHTERA DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM
  231. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBATALAN PENGANGKATAN ANAK (STUDI TERHADAP PUTUSAN PA SLEMAN NO 197/PDT G/2006/PA SMN)
  232. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENGARUH HARGA JUAL BARANG JAMINAN ATAS BIAYA IJARAH PADA PEGADAIAN SYARIAH (STUDI DI PEGADFAIAN SYARIAH KUSUMANEGARA YK)
  233. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK JUAL BELI PESANAN PERHIASAN PERAK PADA KOPERASI PENGUSAHA PENGRAJIN PEAK (KP3Y) DI KOTAGEDE YK
  234. STUDI KASUS KEPUTUSAN PA BOYOLALI TENTANG ALASAN-ALASAN PERCERAIAN DI KALANGAN PNS TH 1997-1999
  235. STUDI TERHADAP PENOLAKAN IZIN POLIGAMI DI PA YK TAHUN 2005
  236. PELAKSANAAN HUKUM KEWARISAN DALAM LINGKUNGAN ADAT KAMPUNG NAGA, DESA NEGLASARI KEC. SALAWU KAB.  TASIKMALAYA DITINJAU DARI HUKUM ISLAM
  237. TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBAGIAN HARTA BERSAMA DARI PASANGAN NIKAH SIRI (STUDI KASUS DI DESA JAMBON KEC. PEDAN KAB. KLATEN)
  238. ISBAT POLIGAMI (STUDI TERHADAP PUTUSAN NO 136/PDT G/2004/PA WT TENTANG PEMBUKTIAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM DI PA WATES)
  239. PENEGAKAN HUKUM BAGI PELAKU PEMBALAKAN LIAR PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM
  240. TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ANAK DALAM PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM (ANALISIS PASAL 17 UU NO 21 TH 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG)
  241. REMISI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM (STUDI TERHADAP KEPUTUSAN PRESIDEN RI NO 174 TH 1999)
  242. PEMBERIAN NAFKAH KEPADA SUAMI (STUDI ATAS PANDANGAN IBN HAZM)
  243. PRAKTEK JUAL BELI BILYET GIRO (PIUTANG) DI DESA MENGANTI KEDUNG JEPARA DALM PENDAPAT IMAM MALIK DAN IMAM ASY-SYAFI’I

Pendahuluan

Dalam pembahasan ini terlebih dahulu disebutkan hadis-hadis yang tidak perlu dibahas lagi keadaan sanadnya, karena para ahli hadis telah menelitinya dengan kecermatn dan pemeriksaan yang mendalam serta berdasarkan kemahiran dan keluasan pengetahuan mereka tentang kaidah-kaidah penelitian hadis dan illatnya yang samar sekali. Terhadap hadis-hadis yang demikian ini, jika kita menelitinya kembali, laksana orang yang menakar air lautan dan tentu tidak akan berhasil serta tidak akan mendapatkan sesuatu.

Di antara hadis-hadis yang telah diteliti para ahli hadis terdahulu dari segi sanad dan matn adalah :

a)   Hadis-hadis dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim atau salah satunya.

Baik Imam Bukhari atau Imam Muslim telah meriwayatkan hadis-hadis yang sahih dengan sand-sanad yang tidak terdiri atas periwayat yang daif atau matruk, sseperti halnya tidak terdapat illat yang samar di dalamnya yang menyebabkan kesahihan hadis.

Hadis-hadis Sahih Bukhari dan Muslim sudah semestinya bernilai sahih, tidak perlu diteliti kembali sanadnya, karena tujuan utama penelitian sanad hadis hanyalah untuk mengetahui sahih dan tidaknya suatu hadis. Kita tidak perlu terpengaruh terhadap hal-hal yang diisukan orang dewasa ini, yang mengaku telah melakukan penelitian secara ilmiah bahwa ternyata dalam kedua kitab sahih atau salah satunya terdapat hadis yang daif, sesuai dengan simpulan akhir penelitian mereka yang didasarkan pada kaidah-kaidah usul dan ilmu hadis, bertentangan dengan akal (mereka), ilmu kedokteran,[1] teori-teori ilmu pengetahuan yang mereka pelajari atau berbagai alasan lainnya.

Di antara mereka terdapat orang yang memahami hadis dan ilmunya, namun dengan rasa ambisi ingin mengorbitkan dirinya sebagai ulama besar yang berpengetahuan tinggi dan mampu mencari dan menunjukkan kesalahan para imam terdahulu. Keadaan mereka itu seperti telah digambarkan penyair sebagai berikut :

وانى وان كنت الاخيرزمانه لآت بمالم تستطعه الاوائل :“Sesungguhnya kami, walaupun orang yang akhir masanya, adalah orang yang mampu melaksanakan sesuatu yang tidak mampu dilakukan ulama-ulama terdahulu.”

Dan di antaranya terdapat para partisipan musuh-musuh Islam yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hadis atau ilmu-ilmunya. Mereka hanya mencari hasil pekerjaan yang haram, menulis bermacam-macam makalah yang tidak betul dan kitab-kitab yang menipu, di mana lahiriahnya tampak rahmat namun di baliknya terdapat azab, dan menyelinapkan kedustaan di tengah-tengah hadis dengan pengakuan membela Assunah serta membersihkannya dari berbagai kecacatan. Semoga kehancuran yang dahsyat menimpa diri mereka akibat dari ulah tangan dan perbuatannya.

Terkadang mereka menamakan kitab karyanya dengan Adwa’ ‘Alas-Sunnati Muhammadiyyah, atau Difa’ ‘Anil Hadits.[2] Dan yang lain menamakannya dengan Al Adwa’ul Quraniyyah Fiktisahil Ahaditsil Asra’iliyyah Wa Tathiril Bukhari Minha.[3] Kitab-kitab itu hakikatnya merupakan kesesatan yang sangat. Hanya kepada Allah kami memohon kekuatan dan sebaik-baik kesudahan.

Berikut kami kemukakan pendapat para Imam ahli hadis bahwa semua hadis dalam kitab Sahihain adalah bernilai salah, tidak perlu diteliti atau dibahas kembali.

1)      An-Nawawi dalam mukadimah Syarh Sahih Muslimnya berpendapat, suatu perbedaan antara kedua kitab hadis sahih (Sahihain) dengan kitab-kitab selainnya adalah bahwa hadisnya bernilai salah, tidak perlu diteliti kembali dan bahkan wajib diamalkan secara mutlak. Sementara hadis dalam kitab selainnya tidak boleh diamalkan hingga diteliti terlebih dahulu dan didapatkan di dalamnya syarat-syarat hadis sahih.[4]

2)      Ibnus Salah dalam Ulumul Haditsnya mengatakan, inilah catatan yang baik dan berguna sekali, yang di antaranya adalah pendapat yang mengatakan bahwa hadis-hadis riwayat Imam Bukhari atau Imam Muslim tergolong hadis yang sahih secara pasti. Karena seluruh umat Islam dapat menerima kedua kitab sahih tersebut sesuai dengan cara yang telah kami jelaskan.[5]

Ibnus Salah tidak hanya menilai bahwa hadis-hadis dalam Sahih Bukhari dan Muslim adalah sahih, namun lebih dari itu, telah dipastikan kesahihannya. Hal ini yang lebih menguatkan kesahihan hadis-hadis tersebut yang tidak terdapat sedikit pun keraguan yang dapat mengungkit kesahhannya, dan bahkan pendapat Ibnus Salah itu telah disepakati para imam terdahulu (mutaqaddimin) juga merupakan pendapat ahli hadis secara keseluruhan serta ulama salaf pada umumnya.

Ibnu Kasir dalam Ikhtisar Mustalah hadits setelah mengutip pendapat Ibnus Salah tersebut mengatakan, saya sependapat dengan Ibnus Salah tentang hal-hal yang dpat dipercaya dan telah diluruskan. Wallahu A’lamu (Hasyiyah). Kemudian kami membaca dan memahami pendapat Syekh Ibnu Taimiyah bahwa hadis yang diterima dari segolongan imam tersebut di bawah ini adalah dapat dipastikan kesahihannya, seperti riwayat Al Qadi Abdul Wahab Al Maliki, Syekh Abu Hamid Al Isfirayini, Al Qadi Abut Tayyib At Tabari, Syekh Abu Ishaq As Syirazi (Syafi’iyyah), Ibnu Hamid, Abu Ya’la bin Al Farra’, Abul Khattab, Ibnuz Zaguni (Hanabilah), dan As-Sarkhasi (Hanafiyyah). Selanjutnya, beliau mengatakan hal itu merupakan pendapat sebagian besar ahli kalam aliran Asy’ariyah dan lainnya, seperti Abu Ishaq Al Isfirayini dan Ibnu Furak, serta merupakan pendapat ahli hadis secara keseluruhan dan ulama salaf pada umunya. Semua pendapat tiu sejalan dengan pendapat Ibnus Salah yang sesuai dengan pendapat imam-imam tersebut.[6]

b)  Hadis-hadis dalam kitab yang telah ditetapkan kesahihannya.

Banyak sekali kitab yang ditetapkan kesahihan hadisnya, namun yang masyhur di antaranya adalah :

1)    Kitab-kitab Ziyadah dan Tatimmah pada kitab-kitab Mustakhraj Sahihain.

Hadis-hadis dalam kitab-kitab ini telah ditetapkan kesahihannya, karena para pengarang kitab-kitab Mustakhraj tersebut telah meriwayatkannya dari kedua kitab sahih dengan sanad yang sahih.

Ibnus Salah menyatakan, demikian juga hadis-hadis Tatimmah (pelengkap) dari hadis-hadis yang terbuang atau hadis-hadis Ziyadah (tambahan penjelas) sebagian besar hadis kedua kitab sahih dalam kitab-kitab Takhrijnya. Seperti, kitabnya Abu ‘Uwanah Al Isfirayini, Abu Bakar Al Isma’ili dan Abu Bakar Al Barqani serta yang lainnya.[7]

2)     Kitab Sahih Ibnu Khuzaimah.

Hadis-hadis dalam Sahih Ibnu Khuzaimah ini sudah sepatutnya dinilai sahih, karena pengarangnya hanya menghimpun hadis-hadis yang bernilai sahih. Ibnus Salah juga menyatakan bahwa hadis-hadis sahih hanya terdapat dalam kitab-kitab para imam yang mensyaratkan hanya menghimpun hadis sahih, seperti halnya kitab Sahih Ibnu Khuzaimah.[8]

As Suyuti menilai bahwa Sahih Ibnu Khuzaimah ini lebih tinggi nilainya daripada Sahih Ibnu Hibban, karena kesungguhan pengarangnya alam memeriksa hadis, sehingga beliau menangguhkan penilaiannya sebagai hadis sahih terhadap hadis-hadis yang memakai sanad paling rendah. Dalam penilaiannya itu beliau mengatakan In Sahhal Khabaru atau In Sabata Kaza, dan sesamanya.[9]

3)     Kitab Sahih Ibnu Hibban (At-Taqasim Wal Anwa’).

Menurut satu pendapat bahwa imam yang menghimpun hadis sahih, setelah Bukhari dan Muslim adalah Ibnu Khuzaimah dan kemudian imam yang bersikap toleran (mutasahilin) dalam menilai hadis sahih. Namun tidak seperti sikap toleransinya Imam Al Hakim, seperti dikatakan Al Hazimi, yang telah menilai hadis hasan sebagai hadis sahih, karena mudahnya syarat-syarat beliau dalam menilai ketsiqahan periwayat.[10]

4)     Kitab Sahih Ibnus Sakan.[11]

Kitab sahih ini bernama As Sahihul Muntaqa dan As Sunanus Sihhah Al Ma’surah ‘An Rasulillah adalah suatu kitab hadis yang terbuang sanad-sanad hadisnya, memuat bab-bab hukum, dan sunah-sunah ma’surah yang menurut pengarangnya (Ibnus Sukan) bernilai sahih.[12]

5)     Kitab Al Mustadrak ‘Alas-Sahihain karya Al Hakim.

Menurut Ibnus Salah bahwa Al Hakim Abu Abdullah Al Hafiz adalah imam yang sangat memperhatikan Ziyadah hadis sahih selain yang terdapat dalam kitab Sahihain dan berhasil menghimpunnya dalm sebuah kitab yang bernama Al Mustadrak. Kitab ini memuat hadis-hadis yang tidak terdapat dalam Sahihain, dan menurutnya sesuai dengan syarat hadis sahih menurut kedua Imam hadis itu, sebagaimana diriwayatkan dalam kitabnya. Atau sesuai dengan syarat Bukhari saja, Imam Muslim saja, dan atau sesuai dengan ijtihad beliau sendiri sehubungan dengan penilaian hadis sahih terhadap suatu hadis, meski tidak sesuai dengan syarat salah satu dari kedua imam hadis tersebut.

Selain itu, Al Hakim adalah imam yang luas pandangannya tentang syarat hadis sahih namun bersikap memudahkan dalam menilai hadis.[13] Menurut satu pendapat bahwa sikap beliau yang memudahkan dalam menilai hadis itu karena keadaan dirinya yang sangat tua, sehingga mengakibatkan sering lalai. Menurut pendapat lain, beliau segera dipanggil Allah sebelum selesai meneliti dan memeriksa sekian banyak hadis.

Menurut Badruddin bin Jama’ah bahwa Al Hakim telah meneliti dan menilai hadis berdasarkan hal-hal yang sesuai dengan keadaan hadis itu sendiri, baik bernilai sahih, hasan atau daif. Cara ini rupanya sangat tepat.[14] Az Zahabi banyak meneliti kembali hadis-hadis yang telah dinilai sahih oleh Al Hakim berdasarkan keadaan hadis-hadis itu sendiri, padahal menurut satu pendapat hadis-hadis itu tidak bernilai sahih. Dalam hal ini, Az Zahabi menilai sebagai hadis hasan, daif, munkar, dan terkadang hadis palsu (maudu’). Namun masih terdapat beberapa hadis yang ditangguhkan oleh Az Zahabi dan perlu diteliti serta dinilai kembali berdasarkan keadaan hadis itu sendiri.[15]

c)   Hadis-hadis yang telah ditentukan kesahihannya oleh para Imam terpercaya.

Hadis-hadis dalam hal ini terdapat dalam kitab-kitab hadis yang mu’tamad (dapat dipegangi), seperti dalam Sunan Abu Dawud, Jami’ut-Turmuzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ad-Daruqutni; dengan ketentuan, selama pengarangnya telah menentukan kesalahan hadis tersebut dan tidak hanya terdapat dalam kitabnya, karena pengarangnya tidak hanya meriwayatkan hadis sahih dalam kitabnya.

Kesahihan hadis-hadis tersebut ditentukan oleh salah seorang imam, kemudian diriwayatkan darinya melalui sanad yang sahih, seperti dalam Su’alat Imam Ahamd bin Hambal dan Ibnu Ma’in serta lainnya. Ketentuan para ulama seperti itu cukup untuk menilai kesahihan suatu hadis.[16]

d)  Hadis-hadis yang telah dinilai dan dijelaskan martabahnya oleh para ulama.

Pada bagian ini terdapat hadis-hadis yang telah dipelajari sanadnya oleh para imam terdahulu, kemudian dinilainya berdasarkan keadaan hadis-hadis itu sendiri, dan telah dijelaskan derajatnya, baik hasan, daif, munkar, atau maudu’.

Jika penilaian tersebut berasal dari para imam hadis yang terpercaya dan tidak terkenal bersikap memudahkan dalam menilai hadis, menurut kami (Dr. Mahmud At-Tahhan), penelitian dan penilaian itu telah cukup dan tidak perlu lagi mempelajari serta meneliti kembali terhadap sanad-sanadnya. Hal ini seperti hadis-hadis yang telah dinilai hasan atau daif oleh At Tirmizi dan hadis-hadis yang telah dinilai maudu’ oleh para imam yang lain.[17]

Kegunaan Meneliti Hadis-hadis yang Belum Diteliti dan Dinilai Ulama Terdahulu

Meneliti sanad-sanad hadis yang belum diteliti dan dinilai ulama terdahulu adalah sangat penting dan berguna. Karena jumlah hadis itubanyak sekali, para ulama yang menekuni hal ini mulai meneliti satu di antara  beberapa kitab hadis karya ulama terdahulu hingga usia mereka dihabiskan untuk meneliti dan menilai hadis-hadis dalam beberapa kitab tersebut, mempelajari sanad, dan menilainya berdasarkan keadaan hadis tersebut. Usaha tersebut merupakan pengabdian mereka yang sangat bernilai terhadap hadis nabi yang merupakan sumber kedua dari beberapa sumber penetapan hukum Islam setelah Alquran.

Harapan kita, semoga Universitas Islam yang memfokuskan perhatiannya terhadap Alquran dan hadis dapat melaksanakan hal-hal yang telah dilakukan para ulama terdahulu sehingga termasuk orang-orang yang bertanggung jawab melestarikan kemurnian Assunah.

Metode Mempelajari Sanad

Syarat-Syarat hadis shahih :

v   Sanad bersambung (muttashil : Mawshul dan Marfu’)

v   Periwayat adil dan dlabith secara sempurna (tsiqat)

v   Tidak terdapat syaz dan ‘illat pada sanad atau matn

  1. 1.   Tahap pertama Mencari Biografi Periwayat guna mengetahui pendapat ulama ahli jarh dan ta’dil tentang keadilan dan kedlabithannya:

Berikut ini contoh mencari biografi para periwayat dalam sanad hadis yang tersebut dalam kitab An-Nasa’i.

اخبرنا اسماعيل بن مسعود قال حدثنا خالد بن الحارث قال حدثنا حسين المعلّم عن عمروبن شعيب انّ اباه حدثه عن عبدالله بن عمرو قال : لمافتح رسول الله صلى الله عليه وسلم مكة قام خطيبا فقال فى خطبته : لايجوز لامرأة عطية الاباذن زوجها

Pada sanad hadis tersebut terdapat enam periwayat, yaitu :

  1. Isma’il bin Mas’ud
  2. Khalid bin Al-Harits
  3. Husain Al-Mu’allim
  4. Amru bin Syu’aib
  5. Syu’aib (ayah Amru)
  6. ‘Abdullah bin Amru (Ibn al-‘Ash)

 

Sebelum kita mencari biografi para periwayat tersebut, sebaiknya diketahui bahwa karena sanad hadis terdapat dalam Sunan An-Nasa’i, maka biografi para periwayat tersebut hanya dapat diketahui dalam kitab-kitab biografi khusus periwayat kitab hadis enam.

Di antara kitab biografi periwayat kitab hadis enam adalah:

  1. Kitab Tahdzib al- Tahdzib, karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
  2. Kitab Taqrib al-Tahdzib, karya Ibnu Hajar Al-‘Asqalani.
  3. Kitab Al-Kasyif, karya Al-Dzahabi.
  4. Kitab Khulasat al-Tadzhib Tahdzib al-Kamal, yang ditulis Al-Khazraji.

 

Kita baca kitab Taqrib al-Tahdzib dan mencari biografi periwayat, yaitu :

1)    Isma’il bin Mas’ud.

Pada juz 1 halaman 65 dalam bab huruf hamzah terdapat nama Isma’il, namun Isma’il bin Aban. Kita harus berpindah pada beberapa halaman setelahnya guna mengetahui nama bapaknya, yaitu Mas’ud. Ternyata pada halaman 74 terdapat dua periwayat yang bernama Isma’il bin Mas’ud, yaitu Isma’il bin Mas’ud Az-Zuraqi dan Isma’il bin Mas’ud Al Jahzari. Isma’il bin Mas’ud yang menjadi guru An-Nasa’i

2)   Khalid bin Al Haris.

Lebih awal kita teliti nama Khalid pada bab huruf kha’, maka pada juz I halaman 211 terdapat periwayat yang bernama Khalid, namun Khalid bin ‘Isya’. Kemudian kita pindah pada beberapa biografi setelahnya, maka pada akhir halaman setelah empat biografi terdapat Khalid bin Al Haris Al Hujaimi, dan memang tidak terdapat periwayat lain yang bernama Khalid bin Al Haris yang termasuk periwayat kitab hadis enam.

3)   Husain Al Mu’allim.

Lebih dahulu kita mencari nama Husain pada bab huruf ha’ ( الحاء ), maka pada juz I halaman 173 terdapat judul Zikru Man Ismuhu Al Husain, karena periwayat satu ini tidak disebutkan nama bapaknya dalam sanad tersebut, maka harus kita periksa semua periwayat yang bernama Husain. Ternyata pada halaman 175 juz I tersebut kita temukan periwayat yang bernama Husain Al Mu’allim dengan nama lengkapnya Husain bin Zakwan Al Mu’allim. Ia disebut Al Mu’allim, karena sesuai dengan pekerjaannya mengajar anak-anak kecil.

4)   Amru bin Syu’aib.

Nama Amru dapat dicari pada bab huruf ‘ain ( ع ) dalam judul Zikru Man Ismuhu ‘Amru pada juz II halaman 65 dan bapaknya (Syu’aib) terdapat pada juz II halaman 72, nama lengkapnya Amru bin Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash.

5)   Syu’aib (bapak ‘Amru).

Nama itu terdapat pada bab huruf syin dalam juz I halaman 351 dengan Syu’aib. Karena nama bapaknya telah diketahui dalam biografi anaknya (Amru), maka pada halamn 353 juz I tersebut terdapat periwayat yang bernama Syu’aib, nama lengkapnya Syu’aib bin Muhammad bin ‘Amru bin Al ‘Ash adalah periwayat yang sangat jujur (shaduq), teguh pendiriannya (tsabt) dan pernah meriwayatkan hadis dari bapaknya.

6)   Abdullah bin Amru (Ibnul ‘Ash).

Nama Abdullah terdapat pada bab huruf ‘ain ( ع ) dengan judul Zikru Man Ismuhu Abdullah, juz I halaman 400. Kemudian nama bapaknya (Amru) terdapat pada pada juz I halaman 436, nama lengkapnya Amru bin Al ‘Ash, salah seorang sahabat nabi Muhammad saw yang masyhur.

  1. 2.   Tahap Kedua Membahas Keadilan dan Kedlabithan Periwayat

Sebagai contoh, sanad hadis tersebut dengan uraian sebagai berikut:

1)    Isma’il bin Mas’ud :

a)    Tersebut dalam kitab Taqribut-Tahzib, I, 74, beliau adalah tsiqah.

b)   Tersebut dalam kitab Al Kasyif, I, 128, beliau adalah tsiqah.

c)    Tersebut dalam kitab Khulasatu Tahzibil Kamal (baca, Al Khulasah), I, 26, menurut Abu Hatim, beliau sangat jujur (saduqun).

d)   Tersebut dalam kitab Al Khasyiyah, menurut An-Nasa’i beliau adalah tsiqah.

2)   Khalid bin Al Haris :

a)    Tersebut dalam kitab Taqribut Tahzib (baca: At-Taqrib), I, 211-212, beliau adalah tsiqah lagi teguh (siqatun sabtuni).

b)   Tersebut dlam kitab Al Kasyif, I, 266-267, menurut Imam Ahmad, beliau adalah Ilaihil Muntaha Fis Sabti Bil Basrati (orang Basrah yang sangat teguh). Menurut Al Qattan bahwa tiada orang yang lebih baik daripada Khalid bin Al Haris dan Sufyan.

3)   Husain Al Mu’allim :

a)    Tersebut dalam kitab At-Taqrib, I, 175-176, beliau adalah tsiqah dan terkadang wahm (salah sangka).

b)   Tersebut dalam kitab Al Kasyif bahwa Al Husin bin Zakwan Al Mu’allim Al Basri adalah tsiqah.

c)    Tersebut dalam kitab Al Khulasah, menurut Ibnu Hibban dan Abu Hatim, beliau adalah tsiqah.

4)   Amru bin Syu’aib :

a)    Tersebut dalam kitab At Taqrib, II, 72, beliau sangat jujur (sadaqun).

b)   Tersebut dalam kitab Al Kasyif, II, 332. Al Qattan berkata, “Jika orang yang tsiqah pernah meriwayatkan darinya, maka hadisnya dapat dibuat hujjah.” Imam Ahmad menyatakan, terkadang kami berhujjah dengan hadisnya. al Bukhari mengatakan, saya melihat Ahmad, Ali, Ishaq, dan Abu ‘Ubaid, serta sebagian besar pengikut kita banyak berhujjah dengan hadis Amru bin Syu’aib. Menurut Abu dawud, hadis Amru bin Syu’aib tidak dapat dibuat hujjah.

c)    Tersebut dalam kitab Al Khulasah, 290. menurut Al Qattan, jika Amru bin Syu’aib meriwayatkan dari orang yang tsiqah, maka ia adalah tsiqah dan boleh berhujjah dengan hadisnya. Menurut riwayat Ibnu Ma’in, jika ia meriwayatkan dari selain bapaknya, maka ia adalah tsiqah. Menurut Abu Dawud bahwa riwayat Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya tidak dapat dibuat hujjah. Sebaliknya, menurut Abu Ishaq bahwa riwayat beliau adalah sebagaimana riwayat Ayyub dari Nafi’ dan Ibnu Umar (dapat diterima). Demikian juga An Nasa’i menilainya tsiqah. Al Hafiz Abu Bakar bin Ziyad berpendapat, riwayat Amru dari bapaknya secara sima’i adalah sahih. Begitu juga dari kakeknya (Abdullah bin Amru). Al Bukhari mengakui bahwa Syu’aib pernah mendengar dari kakeknya (Abdullah bin Amr).

5)   Syu’aib (ayah Amru) :

a)    Tersebut dalam kitab At-Taqrib, I, 353, beliau adalah orang yang sangat jujur (saduqun).

b)   Tersebut dalam kitab Al Kasyif, II, 13-14, beliau adalah sangat jujur (saduqun).

c)    Tersebut dalam kitab Al Khulasah, 167, beliau dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibban.

6)   Abdullah bin Amru (Ibnul Ash).

Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal, sehingga keadilan dan Kedlabithannya tidak perlu dibahas lagi.

Kesimpulan tentang keadilan dan Kedlabithan peawi tersebut :

1)        Ketiga periwayat pertama, yaitu Isma’il bin Mas’ud, Khalid bin Al Haris, dan Husain Al Mu’allim adalah para periwayat yang adil dan dabit, karena para ahli jarh dan ta’dil menilai tsiqah dan tidak mencacat keadilan serta Kedlabithan mereka, sebagaimana kita ketahui bahwa tsiqah adalah adil dan dabit.

2)        Periwayat keempat, yaitu Amr bin Syu’aib adalah orang yang dipertentangkan ketsiqahannya. Orang yang menilainya tidak tsiqah ternyata tidak berdasarkan cacatnya keadilan dan Kedlabithannya, namun hanya berdasarkan sesuatu di luar itu, yaitu periwayatan dari bapaknya; apakah ia benar-benar pernah mendengar dari bapaknya? Jika benar, apakah periwayatannya dilakukan secara sima’i? Karena itu, ahli jarh dan ta’dil berpendapat, jika dia meriwayatkan dari selain bapaknya, maka ia adalah tsiqah. Simpulannya bahwa secara pribadi beliau adalah tsiqah. Jika ia meriwayatkan dari bapaknya, maka tidak ada masalah jika berhujjah dengan hadisnya.

3)        Periwayat kelima, yaitu Syu’aib bin Muhammad yang mempunyai problem seperti anaknya (Amru). Beliau adalah orang tsiqah. Hanya saja yang menjadi masalah adalah periwayatan dari kakeknya (Abdullah bin Amru). Menurut pendapat yang kuat, beliau mendengar langsung dari kakeknya, namun tidak banyak meriwayatkan dari kakeknya. Maka tetap diragukan bahwa semua riwayatnya tidak berasal dari kakeknya, namun berasal dari Sahifah Abdullah bin Amru yang diriwayatkan secara wijadah, tidak mendengar langsung. Karena kakeknya tidak termasuk sahabat, maka hadisnya bernilai mursal.

4)        Periwayat keenam, yaitu Abdullah bin Amru adalah seorang sahabat, beliau adalah tsiqah.

  1. 3.   Tahap Ketiga Membahas Kemuttasilan Sanad

Setelah kita membicarakan keadilan dan Kedlabithan periwayat, selanjutnya kita membicarakan sanad muttasil, yang merupakan tahap ketiga dalam mempelajari sanad hadis, sebagai berikut :

1)        An Nasa’i meriwayatkan hadis tersebut dari Isma’il bin Mas’ud dengan kata-kata Akhbarana.

2)        Isam’il bin Mas’ud meriwayatkan dari Khalid bin Al Haris dengan kata-kata haddasana.

3)        Khalid Al Haris meriwayatkan dari Al Husain Al Mu’allim dengan kata-kata haddasana. Karena semua bentuk periwayatan tersebut dipakai para ahli hadis dalam bentuk periwayatan Al Qira’ah Was-Sima’ Minas Syekh, yaitu membaca di hadapan dan mendengar langsung dari guru. Di sini jelaslah bahwa sanad hadis tersebut adalah muttasil (bersambung).

4)        Husain Al Mu’allim meriwayatkan dari Amru secara mu’an’an (dari seseorang yang tidak diketahui namanya). Bentuk periwayatan seperti ini dianggap muttasil, karena pada mulanya Husain tidak termasuk periwayat mudallis dan mungkin sekali bertemu dengan Amru bin Syu’aib. Beliau dikenal telah meriwayatkan dari serta termasuk di antara murid Amru bin Syu’aib.

5)        Amru bin Syu’aib, sebagaimana telah dijelaskan bahwa bapaknya pernah bercerita padanya dengan kata-kata haddasuhu, berarti sanadnya adalah muttasil.

6)        Syu’aib bin Muhammad bin Abdullah yang telah meriwayatkan dari Abdullah bin Amru secara mu’an’an. Namun karena dalam hal ini masih terdapat masalah bahwa menurut Ibnu Hajar, Syu’aib tergolong mudallis tingkatan kedua, yaitu orang-orang yang dianggap mudallis oleh para imam namun masih tergolong sahih karena menjadi imam dan sedikit tadlisnya, maka Syu’aib tetap dianggap periwayat yang mudallis, namun periwayatannya secara mu’an’an dianggap sima’i (mendengar langsung). Hal ini karena tadlisnya hanya sedikit dan dia mendengar langsung dari Abdullah, sehingga sanadnya adalah muttasil.

  1. 4.   Tahap Keempat Membahas Syaz dan Illat Hadits

Membahas syaz dan illat hadis adalah perbuatan yang sangat sulit dibanding membahas keadilan dan Kedlabithan periwayat serta kemuttasilan sanad. Mengetahui ada tidaknya kesesuaian antara beberapa sanad hadis dan menjelaskan ada tidaknya syaz dan illat hadis hanya dapat dilakukan oleh orang yang menguasai (hafal) banyak tentang sanad dan matn hadis. Menurut ulama Mustalah Hadis bahwa illat mungkin terdapat dalam sanad hadis yang periwayatnya tercatat tsiqah dan dari segi lahirnya telah memenuhi syarat-syarat hadis sahih. Mereka mengatakan, adanya illat dalam sanad hadis adalah lebih banyak daripada dalam matnnya.

Illat hadis dapat dijelaskan dengan cara menghimpun semua sanad dan memperhatikan perbedaan para periwayat hadis. Menurut Al Khatib Al Bagdadi, illat hadis diketahui dengan menghimpun semua sanad hadis, melihat perbedaan periwayatnya, dan menempatkan mereka sesuai dengan tempatnya, baik dari segi hafalan, ketaqwaan, dan Kedlabithannya.

Hal ini sangat sulit, terutama bagi orang yang tidak menguasai banyak dan macam-macam sanad hadis, atau bagi orang yang tidak mampu menghimpun semua sanad hadis, melihat perbedaan periwayatnya dan mengambil yang lebih kuat di antaranya.

  1. 5.   Tahap Kelima Penilaian Hadis

Penilaian hadis adalah menjelaskan derajat hadis, baik sahih, hasan, daif, atau maudu’, setelah terlebih dahulu mempelajari sanadnya sesuai dengan cara yang telah disebutkan.

Menilai hadis yang telah kita pelajari sanadnya tersebut di atas adalah sebagai berikut :

a)    Enam periwayat hadis tersebut adalah tsiqah, yaitu adil dan dabit. Maksudnya, masing-masing periwayat pada sanad hadis tersebut termasuk periwayat hadis sahih, meski masih terdapat dua periwayat, yaitu Amru bin Syu’aib dan bapaknya, tidak termasuk periwayat hadis sahih yang bernilai tinggi, tetapi hanya termasuk periwayat hadis sahih yang bernilai rendah.

b)   Sanad hadis tersebut adalah muttasil, meski agak mendekati munqati’ (terputus), karena periwayatan Syu’aib dari kakeknya, yaitu Abdullah bin Amru dilakukan secara mu’an’an (dengan kata-kata ‘An).

c)    Sepanjang penelitian kami (pengarang kitab), hadis tersebut tidak mengandung syaz atau illat, baik pada sanad atau matnnya.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan, hadis tersebut bernilai sahih, tetapi tidak termasuk bernilai sahih yang tinggi, namun hanya termasuk nilai sahih yang terendah. Atau dapat dikatakan sebagai hadis hasan yang tertinggi.

Hadis tersebut juga diriwayatka oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud dalam Sunannya, hanya saja Abu Dawud tidak menilainya secara jelas. Menurut pendapat yang kuat, langkah Abu Dawud seperti ini menunjukkan bahwa hadis tersebut pantas (sahih) dibuat hujjah.

Menurut Az Zahabi, hadis hasan juga dibagi menjadi beberapa tigkatan. Tingkatan yang tertinggi adalah riwayat Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya, riwayat Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, riwayat Ibnu Ishaq dari At Taimi, dan hadis-hadis yang dinilai sahih dalam derajat yang paling rendah.

  1. 6.    Kesimpulan Beberapa Tahapan Mempelajari Sanad Hadis

a)      Mencari biografi para periwayat dalam kitab-kitab tentang biografi periwayat.

b)      Memakai cara khusus untuk mengetahui muttasil atau munqati’nya sanad, yaitu:

1)   Memperhatikan tahun lahir dan wafatnya periwayat, negara asal, dan perjalanan (rihlah)nya.

2)   Memperhatikan biografi periwayat-periwayat mudallis, terutama jika meriwayatkan secara mu’an’an dan tidak secara sima’i (mendengar langsung gurunya).

3)   Memperhatikan pendapat para imam tentang benar dan tidaknya periwayatan sebagian periwayat dari yang lain, seperti perkataan inna fulanan sami’a min fulanin atau inna fulanan lam yasma’ min fulanin.

c)      Untuk mengetahui keadilan dan Kedlabithan periwayat, dapat diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)   Bentuk-bentuk penilaian jarh dan ta’dil untuk setiap periwayat sesuai dengan derajatnya, baik yang sehubungan dengan keadilan atau Kedlabithannya.

2)   Pertentangan jarh dan ta’dil terhadap seorang periwayat dan cara pengompromiannya.

3)   Para imam yang menggunakan bentuk-bentuk jarh dan ta’dil serta istilah-istilah khusus baginya.

4)   Sikap para imam jarh dan ta’dil, baik yang keras (al mutasyaddidun) dan yang memudahkan (al mutasahilun).

5)   Pendapat sebagian teman periwayat tentang nilai sebagian periwayat yang lain.

d)        Untuk menjelaskan ada tidaknya illat dan syaz hadis, harus mempelajari kitab-kitab tentang illat hadis untuk mendapatkan simpulan tentang nilai hadis.

Dalam memberikan nilai hadis, sebaiknya seseorang mengatakan sahihul isnad, hasanul isnad, atau dl’iiful isnad.


[1] Seperti hadis tentang membenamkan lalat dalam minuman sebelum mengambil dan membuangnya, dengan dalih bertentangan dengan ilmu kedokteran. Atau mungkin nabi Muhammad saw mengatakannya tidak berdasarkan wahyu, namun hanya berdasarkan sifat kemanusiaannya. Semua itu merupakan pemikiran yang tidak betul guna mencela sunah dan meninggalkan kandungan hukum-hukumnya.

[2] Adalah kitab karya Mahmud Abu Rayyah yang bermaksud jelek, dan pertama kali dicetak di Mesir tahun 1377 H/1957 M. Di antara ulama yang menolak kitab ini adalah Syaikh Muhammad Abdur Razaq Hamzah melalui kitabnya Zulumatu Abi Rayyah dan Syaikh Abdur Rahman Al Mu’allimi melalui kitabnya Al Anwarul Kasyifah.

[3] Adalah sebuah kitab tulisan Sayyid Salih Abu Bakar berisi tentang berita-berita (hadis) yang bohong, yang dicetak pada tahun 1974 M di Mesir. Di dalam kitab itu, penulisnya menuduh bahwa di dalam kitab Sahih Bukhari terdapat 120 hadis bohong dari cerita-cerita Isra’iliyyat. Semoga Allah melaknatnya di hari kiamat, dan semoga pendapatnya tidak mempunyai pengaruh terhadap ilmu dan agama. Dan seandainya terdapat orang yang melestarikan sunah nabi, pasti tidak terjadi kejelekan seperti itu.

[4] Mukadimah Syarh Sahih Muslim, I, 20.

[5] Ulumul Hadis, 25. selanjutnya beliau mengatakan, kecuali sedikit hadis yang masih dibicarakan sebagian hafiz yang menelitinya, seperti Ad-Daruqutni dan lainnya, namun hadis itu telah dikenal para ahli. Berdasarkan pendapatnya yang terakhir ini, tidak seorang pun dapat menuduh Ibnus Salah telah berpendapat bahwa dalam kedua kitab Sahih terdapat hadis daif. Pendapatnya itu mengandung pengertian bahwa dalam kedua kitab sahih itu terdapat hadis yang tidak termasuk hadis sahih pada derajat yang paling tinggi. Ssehingga hadis ini merupakan pengecualian di antara hadis-hadis yang telah dipastikan kesahihannya, dan bukan tidak termasuk hadis sahih! Hal semacam ini terjadi, karena para ulama belum sepakat bahwa hadis-hadis itu dapat diterima, dengan bukti kutipan As-Sakhawi dalam kitab Fathul Mugis dari pendapat Abu Ishaq Al Isfirayini bahwa penduduk San’a sepakat menilai hadis-hadis Sahih Bukhari dan Muslim Dapat dipastikan kesahihannya, baik sanad atau matannya. Jika terjadi pertentangan, itu hanya masalah sanad dan perawinya (Fathul Mugis, I, 47). Karena itu, para ulama ijma (sepakat) menetapkan kesahihan sanad dan matan hadis-hadis Sahih Bukhari dan Muslim. Pertentangn tersebut tidak menyangkut sahih dan tidaknya hadis, namun menyangkut hal-hal tertentu yang hanya diketahui para ahli. Suatu pendapat bahwa dalam kedua kitab sahih itu terdapat hadis daif, itu hanya kebingungan para pembahas.

[6] Ikhtisar Mustalahul Hadis, 17.

[7] Ulumul Hadis, 17.

[8] UlumulHadis, 17.

[9] Tadribur Rawi, I, 109.

[10] Tadribur Rawi, I 108.

[11] Ar-Risalatul Mustatrafah, 25.

[12] Adalah Al Hafiz Abu Ali Sa’id bin Usman bin Sa’id As-Sakan Al Bagdadi (-353 H), penduduk Mesir.

[13] Ulumul Hadis, 18.

[14] At-Taqyid Wal Idah, 117.

[15] Ta’liqah kitab At-Taqyid Wal Idah, 117.

[16] At-Taqyid wal Idah, 28.

[17] Hal ini bukan berarti sebaiknya kita tidak perlu meneliti sanadnya untuk selama-lamanya, tetapi mungkin sekali menelitinya kembali, terutama jika terdapat perbedaan pendapat dalam menilai sebagian hadis atau terlihat hal-hal yang bertentangan dengan penelitian tersebut. Maka tiada masalah untuk meneliti dan memeriksa kembali penilaian para ulama terdahulu terhadap suatu hadis, lebih-lebih jika penilaian itu berasal dari suatu imam yang bersikap memudahkan; seperti penilaian Ibnul Jauzi bahwa sebagian besar hadis adalah palsu. Perlu kami tegaskan bahwa penelitian ulang itu hanya bagi orang yang mampu dan berpengetahuan tinggi, bukan lagi bagi orang yang bersikap kanak-kanak. Sehubungan dengan hal itu, ada baiknya jika kami kutip catatan As Sakhawi dalam kitab Fathul Mugis sebagai penjelasan terhadap pendapat Ibnus salah, yang tidak menerima penilaian sahih dari orang-orang terakhir pada masa Ibnus Salah dan masa setelahnya, sebagai berikut, “Mungkin Ibnus Salah memlih cara tertentu, agar orang-orang yang berusaha menyaingi kitab-kitab yang telah ada tidak mampu melaksanakannya, di mana mereka tidak mampu menjelaskannya dan tidak memperoleh keahlian yang selalu mendapat jaminan. Cara yang dimaksud adalah:

وللحديث رجال يعرفوبه         والدواوين كتاب وحساب . . . . .

                “Pada setiap hadis terdapat perawi-perawi yang meriwayatkannya, dan (sebagaimana) pada setiap toko terdapat buku catatan dan alat penghitung.”

Karena itu, menurut sebagian ahli hadis bahwa orang yang dapat disebut ahli hadis (muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkannya, serta mengadakan rihlah (berkelana) ke berbagai tempat, mampu menciptakan beberapa aturan pokok (hadis) dan pernah memberikan komentar terhadap berbagai macam kitab musnad, illat, dan tarikh yang kurang lebih mencapai seribu kitab karangan. Jika demikian keadaannya, maka telah jelas sebagai ahli hadis (muhaddis). Jika ia mengenakan jubah di kepalanya, berkumpul dengan para pemimpin dewasa ini, memakai perhiasan yang berlebihan, mempelajari Hadis Al Ifku Wal Buhtan, merusak harga dirinya dan tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asal, maka ia bukan muhaddis, bahkan bukan manusia. Karena dengan kebodohannya, telah memakan barang haram dan akan keluar dari Islam jika hendak menghalalkannya (Fathul Mugis, I, 40-41)

Ilmu hadist terbagi menjadi dua, ilmu hadist Riwayah dan Ilmu Hadist Diroyah.

Ilmu Hadist Riwayah adalah ilmu yang mencakup penukilan perkataan, perbuatan, dan periwayatan maupun penulisan atau pembukuan lafadz-lafadz hadist.

Ilmu Hadist Diroyah adalah ilmu yang diketahui dengannya hakikat periwayatan dan syarat-syaratnya, hokum-hukumnya, dan keadaan periwayatannya dan syarat-syarat mereka dan jenis-jenis hadist yang diriwayatkan dan apa saja yang berkaitan dengannya.

Dari dua ilmu ini terpecah menjadi beberapa cabang-cabang ilmu, cabang-cabang tersebut diantaranya:

  1. Ilmu Jarh wa At-Ta’dil

Ilmu ini membahas mengenai para perowi, sekitar masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafadz-lafadz tertentu.

  1. Ilmu Rijalul Hadist

Ilmu ini adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui para perowi (periwayat hadis) layak menjadi perowi hadist atau tidak.

  1. Ilmu Mukhtalaful Hadist

Ilmu ini adalah ilmu yang membahas hadist-hadist yang secara lahiriyah bertentangan, namun ada kemungkinan dapat diterima dengan syarat-syarat tertentu, mungkin dengan cara membatasi kemutlakan atau keumumannya dan lainnya, yang bisa disebut sebagai ilmu Talfiqul Hadist.

  1. Ilmu I’lalul Hadist

Ilmu ini membahas tentang sebab-sebab tersembunyi yang dapat merusak keabsahan suatu hadist.

  1. Ilmu Gharibul Hadist

Ilmu ini membahas dan menjelaskan Hadist Nabi yang sukar diketahui dan dipahami orang banyak karena telah bercampur dengan bahasa lain atau bahasa Arab pasaran.

  1. Ilmu Nasikh wal Mansukh Hadist

Ilmu ini adalah ilmu yang membahas tentang hadist-hadist yang bertentangan dan tidak mungkin diambil jalan tengah. Hokum hadist yang satu menghapus (me-Nasikh) hokum yang lain (mansukh). Yang datang dahulu dissebut mansukh, dan yang muncul belakangan dinamakan nasikh.

  1. Ilmu Asbabul Wurud Hadist

Ilmu ini adalah ilmu yang membicarakan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan saat beliau menuturkannya, seperti sabda Nabi tentang air laut, ketika seorang sahabat yang sedang berada di tengah laut mendapatkan kesulitan untuk berwudlu’, kemudian Nabi bersabda: “Laut itu menyucikan airnya dan halal bangkainya”.

  1. Ilmu At-Tashif wa At-Tahri

Ilmu ini adlah ilmu yang berusaha menerangkan hadist-hadist yang sudah diubah titik atau syakalnya (Musahhaf) dan bentuuknya (Muharraf).

Contoh: dalam suatu riwayat disebutkan bahwa salah seorang dari Bani sulaiman yang meriwayatkan Hadist dari Nabi Muhammad SAW adalah Utbah Ibn Al-Bazr, padahal yang sebenarnya adalah Utbah Ibn An-Nazr. Dalam hadist ini terjadi perubahan sebutan An-Nazr menjadi Al-Bazr.

  1. Ilmu Tarikh Ar-Ruwah

Ilmu ini adalah ilmu yang membahas tentang keadaan dan identitas para perawi, seperti kelahirannya, wafatnya, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan hadist darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan dan lain-lainnya. Ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan.

HADIST

Hadist secara bahasa memiliki arti sesuatu yang baru.

Sedangkan menurut istilah adalah:

ما أضيف الى النبى (صلعم) قولا أو فعلا أو تقريرا أو صفة

“Apa saja yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir, atau sifat beliau”.

Hadist juga disebut dengan Sunnah.

Menurut bahasa, sunnah artinya “Cara/jalan”, yang baik maupun yang buruk. Sedangkan menurut istiilah adalah sama dengan Hadist.

KHABAR

Khibar secara bahasa memiliki arti berita. Secara istilah, khobar terbagi menjadi tiga:

  1. nama lain dari Hadist.
  2. setelah hadist, yaitu bila hadist adalah apa saja yang berasal dari Nabi, maka Khibar adalah apa saja yang dating dari selainnya.
  3. lebih umum, yaitu bila hadist adalah apa saja yang datang dari Nabi, Khobar adalah apa saja yang datang dari Nabi dan selainnya.

ATSAR

Atsar menurut bahasa adalah sesuatu yang tersisa.

Sedangkan secara istilah, pengertian atsar terbagi menjadi dua:

  1. Atsar adalah nama lain dari Hadist.
  2. Atsar adalah apa saja yang disandarkan kepada para sahabat dan Tabi’in, baik perkataan maupun perbuatan.

Bentuk-bentuk hadist ada tiga:

  1. 1.      Hadist Qouli

Hadist qouli adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, yang  berkaitan dengan aqidah, syari’ah, akhlak, atau lainnya.

Dan biasanya Hadist Qouli dalam permulaan Hadist diawali dengan kata (قال). Adapun contohnya adalah:

قال النبى صلى الله عليه وسلم: من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو ردّ

“Nabi Muhammad SAW berkata: ‘Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan (yang berkaitan dengan agama) yang tidak ada contoh dari perintah kami, maka akan tertolak”.

  1. 2.      Hadist Fi’li

Hadist Fi’li adalah hadist yang menyebutkan perbuatan Nabi yang sampai kepada kita. Dan biasanya hadist Fi’li dalam permulaan Hadist diawali dengan kata (كان). Adapun contoh Hadist fi’li sebagai berikut:

كان النبى صلى الله عليه وسلم يصلى على راحلته حيث توجّهت. (رواه المسلم)

“Nabi SAW shalat di atas tunggangannya, kemanapun tunggangannya itu menghadap. (HR. Muslim).

  1. 3.      Hadist Taqriri

Hadist Taqriri adalah hadist yang menyebutkan ketetapan nabi terhadap yang datang dari sahabatnya. Nabi membiarkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat apabila memenuhi beberapa syarat, baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya.

Contoh Hadist Taqriri:

Sikap Rasulullah SAW terhadap para sahabat yang membiarkan melaksanakan perintahnya, sesuai dengan penafsiran mereka terhadap sabdanya, yang berbunyi:

لا يصلّينّ أحـــــد العصر الا فى بنى قريضة

“Janganlah seorangpun yang shalat Ashar kecuali bila sampai di Bani Quraidloh”.

Sebagian para sahabat memahami larangan tersebut berdasarkan hakikat perintah tersebut sehingga mereka tidak melaksanakan shalat Ashar pada waktunya. Segolongan sahabat yang lain memahami bahwa perintah tersebut adalah agar bersegera menuju ke Bani Quraidloh dan tidak berlama-lama, sehingga mereka dapat shalat tepat pada waktunya. Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh Nabi tanpa menyalahkan atau mengingkarinya.

MATAN

Matan secara bahasa artinya sesuatu yang menjulang dan tinggi di atas tanah. Secara istilah, matan adalah suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.

SANAD

Sanad secara bahasa artinya sesuatu yang dijadikan sandaran. Secara istilah, sanad adalah mata rantai persambungan periwayat yang bersambung bagi matan hadist.

Agar lebih memperjelas dan memudahkan untuk membedakan mana yang matan dan mana yang sanad, maka perhatikan hadist berikut:

حدّثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه قال: سمعت رسول الله (صلعم) قرأ فى المغرب بالطور. (رواه البخارى)

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Yusuf, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya berkata: “aku mendengar Rasulullah SAW membaca surat Thur ketika Shalat Maghrib”. (HR. Bukhari).

Bagian di bawah ini adalah sanad Hadist:

حدّثنا عبد الله بن يوسف قال أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن محمد بن جبير بن مطعم عن أبيه

“Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Yusuf, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya”.

سمعت رسول الله (صلعم) قرأ فى المغرب بالطور.

“aku mendengar Rasulullah SAW membaca surat Thur ketika Shalat Maghrib”.

ISNAD

Isnad memiliki dua pengertian:

  1. menisbatkan suatu hadist terhadap yang berbicara dengan cara bersanad.
  2. mmmemiliki pengertian yang sama dengan sanad, yaitu santai persambungan periwayat yang bersambung bagi matan hadist.

MUSNAD

Musnad secara istilah memiliki tiga pengertian:

  1. Semua kitab yang dikumpulkan di dalamnya segala yang diriwayatkan oleh para sahabat.
  2. Hadist yang disandarkan kepda Nabi yang bersambung sanadnya.
  3. Yang dimaksud dengan musnad adalah sanad.

ROWI

Rowi adalah orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadist. Bila anda memperhatikan contoh sanad di atas, maka yang dimaksud dengan Rowi adalah nama-nama yang ada pada sanad tersebut, yaitu:

Abdullah bin Yusuf, Malik, Ibnu Syihab, Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dan Bukhari.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.