qiyas islamQiyas menurut bahasa berarti “mengukur” atau mempersamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Menurut istilah syara’, qiyas adalah mempersamakan hokum suatu perkara yang belum ada kedudukan hukumnya dengansesuatu perkara yang sudah ada ketentuan hukumnya, karena adanya segi-segi persamaan dalam illat hukumnya.

Rukun Qiyas

  1. Ashal (pokok), yaitu masalah yang menjadi ukuran atau tempat yang menyerupakan;
  2. Far’un (Cabang), yaitu masalah yang diukur atau yang diserupakan;
  3. Hukum Asal, yaitu hokum syara’ yang terdapat dapa ashal;
  4. Illat, yaitu sebab yang menghubungkan pokok dengan cabang (far’un).

Syarat Qiyas                   

Syarat yang harus dipenuhi oleh rukun Qiyas ialah:

Ashal (pokok):

  1. Adanya ashal harus lebih dahulu dari cabang (far’un);
  2. Ashal sudah mempunyai hokum yang ditetapkan dengan nash.

Far’un (Cabang):

  1. Adanya cabang tidak boleh dahulu dari dapa ashal. Seperti wudlu tidak sah diqiyaskan dengan tayamum karena perintah qudlu lebih dahulu dari tayamum;
  2. cabang tidak mempunyai ketentuan hukum sendiri. Bila nash datang untuk cabang, maka diqiyaskan menjadi batal;
  3. Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada ashal;
  4. Hukum yang ditetapkan atas cabang harus sama dengan hukum ashal.

’Illat (Titik persamaan/alasan):

  1. Illat harus tetap berlaku. Manakala ada illat tentu ada hukum, dan tidak ada hukum bila illat tidak ada;
  2. illat harus berpengaruh terhadap hukum. Artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. Misalnya illat memabukkan menjadikan haramnya minuman keras;
  3. Illat harus terang dan tertentu. Misalnya bepergian menjadi illat bolehnya meng-qoshor shalat;
  4. illat tidak berlawanan dengan nash. Bila terjadi illat menghasilkan hukum yang berlawanan dengan nash, maka nash yang didahulukan.

Macam-macam Qiyas

  1. Qiyas Illat. Yaitu mempersamakan soal cabang dengan soal pokok karena persamaan illatnya. Qiyas illat terbagi kepada dua bagian yaitu:
  • Qiyas Jali. Yaitu apabila illat tersebut berdasarkan dalil yang Qath’i, yang tidak ada kemungkinan lain selain untuk menunjukkan illat. Qiyas Jali ini terbagi menjadi tiga macam, yakni:

-          dijelaskan dengan kata-kata yang menunjukkan illat, misalnya mengqiyaskan orang yang menyuruh orang lain untuk membunuh ayahnya dengan orang yang langsung membunuh ayahnya. Keduanya terhalang mendapat harta warisan.

-          Qiyas Aulawy, contohnya mengqiyaskan orang yang memukul orang tuanya dengan orang yang membentak orang tuanya. Kedua perbuatan itu sama-sama terlarang.

-          Qiyas Musaqi, contohnya mengqiyaskan Wiski dengan arak, keduanya haram diminum.

  • Qiyas Khofi, yaitu apabila illat tersebut berdasarkan dalil yang mungkin dijadikan illat, mungkin pula bukan illat. Qiyas Khofi ada dua macam, yakni:

-          Illat diketahui dari kata-kata yang Dhahir (lebih terang untuk menunjukkan illat daripada untuk lainnya). Contoh mengqiyaskan bekerja dengan jual beli pada hari Jum’at tatkala sudah adzan untuk shalat. Illatnya pergi shalat. Kedua pekerjaan itu harus dihentikan.

-          Illat diketahui dengan penyelidikan. Contohnya mengqiyaskan membakar harta anak yatim dengan memakannya. Illanya pemeliharaan harta atau tidak menghabiskannya yang bersifat dlaruri. Kedua pekerjaan itu terlarang.

  1. Qiyas Dalalah. Yaitu qiyas yang illatnya tidak disebutkan, yang disebutkan hanyalah hal-hal yang menunjukkan adanya illat tersebut. Contohnya mengqiyaskan wajib zakat harta anak-anak dengan wajib zakat harta orang dewasa. Dalil illatnya adalah dapat bertambahnya harta tersebut;
  2. Qiyas Syibih. Yaitu qiyas ketika cabang bisa diqiyaskan dengan dua pokok yang banyak persamaannya. Contohnya mengqiyaskan budak dengan orang merdeka karena sama-sama turunan adam. Budak dapat juga diqiyaskan dengan hewan, karena keduanya adalah harta benda yang dapat dimiliki, tetapi budak lebih banyak persamaannya dengan harta karena dapat diperjual-belikan, diwariskan, dowaqafkan, dan lain-lain.

Kedudukan Qiyas Dalam Sumber Hukum Islam

Menurut Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa Qiyas itu adalah menjadi hujjah syari’ah (sumber hukum syari’at) bagi amal perbuatan manusia dan berada pada tingkatan ke empat dari dalil-dalil syar’i. Hal demikian ini apabila pada suatu peristiwa itu tidak ada ketepatan hukumnya yang berdasarkan nash atau ijma’, maka peristiwa tersebut disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam nash. Alasan yang dikemukakan oleh jumhur ulama’ dalam menetapkan kehujjahan qiyas adalah firman Allah SWT yang berbunyi:

Q.S Al-Hasyr: 2

فاعتزلوا ياأولى الأبصار

“Maka ambillaj (kejadian itu menjadi alasan, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”.

Q.S An-Nisa: 59

فان تنازعتم فى شئ فردّوه الى الله والرّسول

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya)”.